Senin, 18 Agustus 2014

Sehat Negeriku! - Inilah Para Pemenang Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional Tahun 2014

Sehat Negeriku! - Inilah Para Pemenang Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional Tahun 2014


Inilah Para Pemenang Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional Tahun 2014

Posted: 18 Aug 2014 08:50 AM PDT

Senin pagi (18/8), Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, memberikan dengan para Kepala Puskesmas Pembina, Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan perwakilan sekolah Pemenang Lomba Sekolah Sehat (LSS)Tingkat Nasional tahun 2014 di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.

Peserta Lomba Sekolah Sehat tingkat Nasional tahun 2014 berjumlah 83 sekolah yang berasal dari 22 Provinsi yang terdiri dari 17 Taman Kanak-kanak (TK)/Raudathul Athfal (RA); 22 Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI); 22 Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs); dan 22 Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah (MA).

Sekolah Pemenang LSS Tingkat Nasional 2014

Pemenang kategori kinerja terbaik di tingkat TK/RA adalah TK Budi Mulia Pandean Sari, Kec. Depok, Kab. Sleman, DI Yogyakarta. Selanjutnya pemenang II dan III diraih oleh TK Angripina Kec. Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur, dan TK Tirta Marta, Kec. Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Pemenang kategori pencapaian terbaik di tingkat TK/RA adalah TK Negeri Pembina Jaro, Kec. Jaro, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan. Secara berturut-turut, pemenang II dan II untuk kategori ini diraih oleh TK Cor Yesu, Kec. Temanggung, Kab. Temanggung, Jawa Tengah, dan TK Bhayangkari 29, Kec. Jambi Selatan, Jambi.

Pemenang kategori kinerja terbaik di tingkat SD/MI adalah SD Ngrukeman Kec. Kasihan, Kab. Bantul, DI Yogyakarta. Sedangkan predikat juara II dan III berturut-turut diraih oleh SD BPI Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat dan MI N Tamban Baru Mekar Kec. Tamban Catur, Kab. Kapuas, Kalimantan Tengah.

Pemenang kategori pencapaian terbaik di tingkat SD/MI adalah SD Kemala Bhayangkari, Kec. Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sementara pemenang II dan III berturut- turut diraih oleh SD Tarakanita Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dan SDN 01 Seponti, Kec. Seponti, Kab. Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Pemenang kategori kinerja terbaik di tingkat SMP/MTs adalah SMPN 4 Sidoarjo, Kec. Sidoarjo, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Sementara predikat pemenang II dan III berturut-turut diraih oleh SMPN 2 Sumberejo Kec. Sumberejo, Kab. Tanggamus, Lampung, dan SMPN 1 Singaraja, Kec. Buleleng, Kab. Buleleng, Bali.

Pemenang kategori pencapaian terbaik di tingkat SMP/MTs adalah SMPN 2 Bandung, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Sedangkan pemenang II dan III secara berturut-turut diraih oleh SMPN 20 Pekanbaru, Kec. Tampan, Kota Pekanbaru, Riau, dan SMPN 3 Kepil, Kec. Kepil, Kab. Wonososbo, Jawa Tengah.

Pemenang kategori kinerja terbaik di tingkat SMA/SMK/MA adalah SMKN 4 Bandar Lampung, Kec. Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung. Sementara pemenang II dan III diraih oleh SMAN 2 Bantul, Kec. Jetis, Kab. Bantul, DI Yogyakarta, dan SMAN 2 Payakumbuh, Kec. Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.

Pemenang kategori pencapaian terbaik di tingkat SMA/SMK/MA adalah SMAN 2 Unggul Sekayu, Kec.Sekayu, Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Sedangkan predikat pemenang II dan III berturut-turut diraih oleh SMAN 2 Cirebon, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, dan SMA YPK Bontang, Kec. Bontang Barat, Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Kepada para pemenang, Menkes memberikan apresiasi berupa piagam penghargaan tidak hanya kepada perwakilan sekolah namun juga kepada tim pembina UKS baik di tingkat Provinsi, Kab/Kota dan Kecamatan yang telah bekerja keras mewujudkan sekolah-sekolah sehat di wilayahnya.

Puskesmas Pembina UKS Pemenang LSS Tingkat Nasional 2014

Selain kepada sekolah dan tim pembina UKS, Menkes juga memberikan piagam penghargaan, plakat serta media penunjang KIE berupa 1 unit laptop dan projector kepada Puskesmas pembina UKS yang menjadi pemenang LSS tingkat nasional tahun 2014.

Pemenang kategori kinerja terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat TK/RA adalah Puskesmas Depok II, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Pemenang II adalah Puskesmas Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur. Pemenang III diraih oleh Puskesmas Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Pemenang kategori pencapaian terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat TK/RA adalah Puskesmas Jaro, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Pemenang II adalah Puskesmas Temanggung, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Pemenang III diraih oleh Puskesmas Paal Merah 1 Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi.

Pemenang kategori kinerja terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat SD/MI adalah Puskesmas Kasihan 1, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Pemenang II adalah Puskesmas Talaga Bodas, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat. Pemenang III adalah Puskesmas Tamban Baru, Kecamatan Tamban Catur

Pemenang kategori pencapaian terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat SD/MI adalah Puskesmas Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota balikpapan, Kalimantan Timur. Pemenang II adalah Puskesmas Grogol, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Pemenang III adalah Puskesmas Telaga Arum, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Pemenang kategori kinerja terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat SMP/MTs adalah Puskesmas Urang Agung Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pemenang II diraih oleh Puskesmas Margoyoso, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Pemenang III adalah Puskesmas Buleleng 1, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pemenang kategori pencapaian terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat SMP/MTs adalah Puskesmas Tamblong, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Pemenang II diraih oleh Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, Riau. Pemenang III adalah Puskesmas Kepil 1, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Pemenang kategori kinerja terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat SMA/SMK/MA adalah Puskesmas Kebon Jahe, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung, Lampung. Pemenang II adalah Puskesmas Bantul 1, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Pemenang III adalah Puskesmas Air Tabit, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.

Pemenang kategori pencapaian terbaik Puskesmas Pembina UKS tingkat SMA/SMK/MA adalah Puskesmas Lumpatan, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Pemenang II adalah Puskesmas Gunung Sari, Kecamatan Magersari, Kota Cirebon, Jawa Barat. Pemenang III adalah Puskesmas Bontang Barat, Kecamatan Bontang Barat, Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline

Menkes Ungkap Berbagai Tantangan Penyelenggaraan JKN di Fasilitas Kesehatan

Posted: 18 Aug 2014 04:09 AM PDT

14728046337_073bbee16e_zSalah satu tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah pengaturan pengelolaan dana di fasilitas kesehatan. khususnya pada fasilitas kesehatan milik Pemerintah Daerah.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan yang mengemuka dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) dan Rapat Koordinasi Kesehatan (Rakorkes) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 di Batam (11/8), Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, menyatakan bahwa hal telah disikapi Pemerintah melalui penerbitan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2014 tentang Pengelolaan Dan Pemanfaatan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama milik Pemerintah Daerah, yang menyatakan bahwa dana pelayanan kesehatan yang dibayarkan BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan bertujuan untuk membiayai pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta, terutama untuk biaya operasional dan jasa pelayanan kesehatan.

"Peraturan Presiden ini mengamanatkan bahwa Puskesmas dapat menggunakan langsung Dana Kapitasi yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku", ujar Menkes.

Secara garis besar pengelolaan dana kapitasi di faskes tingkat pertama dimanfaatkan seluruhnya untuk jasa pelayanan kesehatan dan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan. Jasa pelayanan kesehatan ditetapkan sekurang-kurangnya 60% dari total penerimaan dana kapitasi JKN, meliputi jasa pelayanan kesehatan perorangan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Sedangkan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan meliputi biaya obat, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, dan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan lainnya. Jasa pelayanan merupakan salah satu bentuk penghargaan atau apresiasi kepada SDM di fasilitas kesehatan yang telah memberikan pelayanan kesehatan, baik secara langsung (tenaga kesehatan) maupun secara tidak langsung (tenaga non kesehatan).

"Sudah saatnya jasa pelayanan kesehatan diberikan dalam tatanan yang lebih baik agar mendorong pemberian pelayanan kesehatan semakin lebih baik", tutur Menkes.

Sementara itu, tantangan yang dihadapi fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut masih berkisar pada penerapan pola pembayaran Ina-CBG's yang terkadang belum dipahami secara utuh oleh seluruh jajaran direksi rumah sakit dan para dokter atau klinisi. Dalam implementasi pola pembayaran Ina-CBG's perlu disikapi oleh rumah sakit dengan cara pandang yang berbeda dengan pola pembayaran fee for services sebagaimana dulu rumah sakit mendapatkan pembayaran sebelum era JKN. Tarif Ina-CBG's berupa tarif paket dan penerapannya bertujuan untuk mengendalikan pembiayaan kesehatan di rumah sakit. Rumah sakit, mau tidak mau perlu melakukan perubahan agar tidak mengalami defisit dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan pola pembayaran Ina-CBG's.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline

Menkes Apresiasi Integrasi Jamkesda ke JKN

Posted: 18 Aug 2014 04:06 AM PDT

14914241442_35635c0dd4_oSalah satu langkah strategis yang perlu diambil oleh pemerintah daerah (Pemda) adalah melakukan integrasi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang dikelola oleh Pemda ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Langkah tersebut akan mempercepat peningkatan cakupan JKN secara keseluruhan.

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Tahun 2014 dengan tema "Percepatan Integrasi Jamkesda ke BPJS Menuju Universal Coverage Provinsi Kepulauan Riau" di Batam, Senin malam (11/8).

"Pada kesempatan ini, saya sampaikan apresiasi kepada Pemda Kota Tanjung Pinang yang telah melakukan langkah integrasi Jamkesda ke JKN", ujar Menkes.

Lebih lanjut, Menkes berharap besar agar Kabupaten/Kota lain di provinsi Kepulauan Riau dapat segera melakukan langkah integrasi tersebut. Selain itu, Menkes juga mengajak jajaran Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota di Kepulauan Riau melakukan advokasi agar fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan milik swasta bersedia melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi peserta JKN.

Tanjung Pinang menjadi satu-satunya kota di Kepulauan Riau yang sudah melakukan integrasi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tercatat, sudah 70.500 jiwa yang tergabung ke dalam JKN. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Tjetjep Yudiana, SKM., M. Kes, yang ditemui usai acara tersebut. Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa saat ini Pemerintah Kota Batam tengah melakukan pendataan dan akan segera menyusul Kota Tanjung Pinang bergabung ke JKN.

Sejak 1 Januari 2014, Bapak Presiden RI telah mencanangkan dimulainya JKN. Cakupan JKN akan diperluas secara bertahap sehingga pada tahun 2019 akan tercapai jaminan kesehatan semesta atau universal health care. Selain dimaksudkan untuk menghapuskan hambatan finansial bagi masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, JKN juga dimaksudkan untuk: 1) mewujudkan kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan; 2) memperkuat layanan kesehatan primer dan sistem rujukannya; 3) mengutamakan upaya promotif-preventif dalam pelayanan kesehatan untuk menekan kejadian penyakit, sehingga orang yang berobat berkurang, dan pembiayaan kesehatan menjadi lebih efisien.

Sampai dengan akhir bulan Mei 2014, penyelenggaraan JKN sudah berhasil memberikan perlindungan kepada lebih dari 50% penduduk Indonesia atau 122.661.673 jiwa. Tampak bahwa JKN diminati oleh masyarakat, terutama kelompok pekerja bukan penerima upah dan kelompok bukan pekerja. Sementara itu, di bidang pelayanan kesehatan bagi peserta JKN, saat ini fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melayani JKN sudah mencapai 15.214 sarana dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut yang melayani JKN mencapai 1.750 sarana.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline

Menkes Buka Rakerkesda Kepulauan Riau 2014

Posted: 18 Aug 2014 03:57 AM PDT

Senin malam (11/8), Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, membuka secara resmi kegiatan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) dan Rapat Koordinasi Kesehatan (Rakorkes) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 di Batam, Senin malam (11/8). Kegiatan tersebeut juga dihadiri oleh Gubernur Kepulan Riau, H. Muhammad Sani; Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Tjetjep Yudiana, SKM, M. Kes; serta perwakilan jajaran kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota.

Pada kesempatan tersebut, Menkes menjelaskan mengenai situasi tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan dan permasalahan kesehatan di Kepulauan Riau. Dalam sambutannya, Menkes menyatakan bahwa Provinsi Kepri masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan kesehatan seperti tingginya kematian Ibu dan anak, status gizi balita, penyakit menular dan penyakit tidak menular yang tentunya memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan juga perlu diperkuat salah satunya dengan peningkatan kapasitas, mengingat sebagian besar wilayah Kepulauan Riau terdiri dari gugusan kepulauan.

Di samping itu, Menkes juga memaparkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Provinsi Kepri yang telah dimiliki sekitar sepertiga penduduk Kepri (2.032.574 jiwa) atau sebanyak 744.003 penduduk telah tercatat sebagai peserta JKN. Jumlah tersebut terdiri dari: 1) Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN sebanyak 333.636 peserta; 2) Pekerja Penerima Upah sebanyak 346.991 peserta; 3) Pekerja Mandiri sebanyak 35.545 peserta; 4) Bukan Pekerja sebanyak 12.831 peserta; dan 5) PBI APBD sebanyak 15.000 peserta.

Selanjutnya, Menkes melakukan dialog bersama jajaran kesehatan untuk membahas berbagai potensi, tantangan dan permasalahan yang dihadapi di lapangan, utamanya dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline

Tidak ada komentar:

Posting Komentar