Selasa, 26 Agustus 2014

Sehat Negeriku! - Global Meeting on Infectious Diseases: PERTEMUAN LEBIH DARI 30 NEGARA UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN GLOBAL TERHADAP ANCAMAN PENYAKIT MENULAR

Sehat Negeriku! - Global Meeting on Infectious Diseases: PERTEMUAN LEBIH DARI 30 NEGARA UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN GLOBAL TERHADAP ANCAMAN PENYAKIT MENULAR


Global Meeting on Infectious Diseases: PERTEMUAN LEBIH DARI 30 NEGARA UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN GLOBAL TERHADAP ANCAMAN PENYAKIT MENULAR

Posted: 20 Aug 2014 09:39 AM PDT

Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit zoonosis,penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya, berpotensi menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.Demikian disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH dalam sambutannya di acara pembukaan Global Meeting on Infectious Diseases, di Hotel Shangri-La, Jakarta(20/8).

"Fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zoonosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerjasama regional dan global," papar Menkes.

Peningkatan penyakit menular baru,disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan iklim global, penggunaan pestisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia dan hewan, serta perubahan gaya hidup. Belum lama ini dunia menghadapi penyebaran flu burung (H7N9 influenza) dan MERS CoV. Dan saat ini, dunia sedang menghadapi wabah Virus Ebola yang berasal dari kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinea, Liberia, Sierra Leone, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai Status Darurat Kesehatan Internasional oleh World Health Organization (WHO) pada 7 Agustus 2014.

Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder). Tidak saja menjadi tanggung jawab pemerintah, pengendalian penyakit zoonosis sangat memerlukan peran sektor swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Sebagai tindak lanjut dari inisiatifGlobal Health Security Agenda (GHSA), pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari 37 negara. DiantaranyaArgentina, Australia, Azerbaijan, Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Kanada, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Italia, Jepang, Kenya, Malaysia, Nepal, Belanda, Norwegia, Oman, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, dan Spanyol.

Pada acara penyambutan satu malam sebelumnya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, HR. Agung Laksono juga menyampaikan pengalaman pentingnya kerjasama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia. "Melalui Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah mengimplementasikan pendekatan One Health. Hasil implementasiOne Health selama 2011 hingga 2013 berhasil mengurangi kejadian 6 jenis penyakit zoonosis yakni rabies, flu burung (H5N1), Antrax, Leptospirosis, Plague dan Brucellosis,"ujar Menko Kesra.

Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri brucella. Di Indonesia dikenal sebagai penyakit reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktivitas sapi. Saat ini beberapa Provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellosis. Sebagai Ketua Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Menko Kesra berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakatnya.

Lebih lanjut Menteri Pertanian menyampaikan bahwa komitmen pencegahan dan pengendalian zoonosis telah berjalan dengan baik khususnya di dua sektor utama yaitu kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan.

Sementaraitu,perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, Dr. Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan Ketahanan Kesehatan Global lima tahun ke depan. "Melalui GHSA, kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular dan epidemi. GHSA diharapkan dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespons wabah penyakit secara efektif," pungkas Dr. Carroll.

GHSA dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB Genewa secara bersamaan pada tanggal 13 Februari 2014. Pertemuan GHSA pertama dilaksanakan pada tanggal 5-6 Mei 2014 di Helsinki, Finlandia. Pada awalnya, inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara-negara maju dengan melibatkan multi-stakeholders dan multi-sektoral. Selain itu, GHSA juga didukung organisasi dunia dibawah PBB, diantaranya World Health Organisation (WHO), Food and Agriculture Organisation (FAO), dan World Organisation for Animal Health (OIE).

Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and commitments yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi. Komitmen ini antara lain juga dimaksudkan untuk memperkuat implementasi International Health Regulation-IHR yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerjasama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan pada tahun 2014 ini.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

1. Kementerian Kesehatan Pusat Komunikasi Publik Telp: 6221 52907416 Fax : 6221 52960661

2. Kementerian Pertanian Humas Ditjen Peternakan Dan Kesehatan Hewan Telp : 6221 7815582 Fax : 6221 7815583

3. Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Biro Informasi dan Persidangan Telp / Fax : 6221 3453289

4. USAID
Joy Sakurai
sakuraijm@state.gov

Tingkatkan Kerjasama dan Kewaspadaan Kekerasan pada Anak

Posted: 12 Aug 2014 05:30 AM PDT

Salah satu faktor yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak adalah kekerasan pada anak. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, menyebutkan bahwa prevalensi kekerasan terhadap anak 3,02%. Artinya, di antara 100 anak terdapat 3 anak yang mengalami kekerasan. Kekerasan seksual merupakan jenis kekerasan terbanyak yang ditemukan.

Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  triwulan 4 tahun 2013 kepada Presiden RI menyebutkan pada tahun 2012 terdapat 1051 anak menjadi korban kekerasan, kekerasan seksual sebanyak 436 kasus (41, 48%). Tahun 2013, terdapat 15 anak per bulan sebagai pelaku kekerasan sensual yang berhadapan dengan hukum. Selain itu, dilaporkan juga terjadi peningkatan jumlah anak pelaku pencabulan dari 162 kasus (15,52%) tahun 2010 menjadi 237 kasus (22, 77%) pada tahun 2013.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bina Gizi & Kesehatan Ibu dan Anak, dr. Anung Sugihantono, M. Kes, dalam sambutannya saat membuka  seminar "Dampak Kekerasan terhadap Tumbuh Kembang Anak", 12 – 13 Agustus 2014, di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI. Seminar yang diselenggarakan oleh  Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2014.

Lebih lanjut, dr. Anung menjelaskan beberapa dampak kekerasan terhadap tumbuh kembang anak, yaitu dampak fisik, psikologis, sosial, dan fungsi kognitif yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. "Gangguan pada salah satu tahapan tumbuh kembang anak mempengaruhi proses tumbuh kembang anak selanjutnya dan berdampak pada penurunan kualitas hidup anak," jelas dr. Anung.

Menurut dr. Anung, kendala yang dihadapi saat ini adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat dan petugas kesehatan untuk melaporkan kejadian kekerasan terhadap anak. Salah satu bentuk perlindungan hukum bagi petugas adalah Permenkes nomor 68 tahun 2013 tentang Kewajiban Pemberi Layanan Kesehatan Untuk Memberikan Informasi Apabila Ada Dugaan Kasus Kekerasan Terhadap Anak. "Harus kita sadari bersama bahwa pada dasarnya semua pihak dapat berperan untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak. Peran masyarakat untuk segera melaporkan kejadian mencegah terjadinya kekerasan yang berkelanjutan," ujar dr. Anung.

Dr. Anung berharap seminar ini dapat meningkatkan kerjasama dan kewaspadaan petugas pemberi layanan kesehatan, pihak berwenang yang terkait, orang tua dan masyarakat terhadap kasus kekerasan terhadap anak. "Dengan memahami begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan, semoga menggerakkan semua pihak untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak," pungkasnya.

Seminar yang dihadiri oleh unsur Puskesmas, RSUD, Sudinkes,  Orang tua, Guru, dan Polsek se-Jabodetabek ini terbagi menjadi 4 topik:  (1) "Menciptakan Lingkungan yang Kondusif  untuk Mencegah Kekerasan yang Berdampak terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak" (Narasumber: DR.dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ); (2) "Permenkes No.68 tahun 2013 dan Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Anak" (Narasumber: Prof. Budi Sampurno, Sp.F); (3) "Kerjasama Antara Kepolisian, Masyarakat dan Media dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak" (Narasumber: Bareskrim/Unit Perlindungan Perempuan dan Anak); (4) "Peran P2TP2A dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak" (Narasumber: Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak DKI Jakarta).

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak@depkes.go.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar