Sehat Negeriku! - Laporan Kasus Flu Burung ke 197 |
- Laporan Kasus Flu Burung ke 197
- Darah untuk Menyelamatkan Ibu
- Raih Kemenangan Anda 1
- Raih Kemenangan Anda 2
| Laporan Kasus Flu Burung ke 197 Posted: 24 Jun 2014 02:17 AM PDT Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan mengumumkan satu kasus baru Flu burung yang telah dikonfirmasi oleh Pusat Biomedis dan Teknologi Daar Kesehatan, Balitbangkes. Kasus atas nama RA (laki-laki, 33 tahun) warga Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta, seorang karyawan. Pada tanggal 1 Juni 2014, timbul gejala demam dan flu pada kasus dan berobat ke klinik swasta. Keesokan harinya tanggal 2 Juni 2014, kasus berobat ke Poliklinik RS swasta dengan diagnosa infeksi saluran kemih (ISK). Lalu dikarenakan tidak ada perubahan dan muncul keluhan mual, muntah dan mata bengkak, pada 3 Juni 2014 kasus kembali berobat ke RS swasta dengan diagnosa Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Dyspepsia. Kondisi kasus tidak kunjung mengalami perubahan, sehingga pada 4 Juni 2014 kasus masuk rawat inap di RS swasta yang sama. Pada 5 Juni 2014, kasus mengeluh sesak dan dikonsultasikan ke spesialis paru dengan diagnosa bronchitis dan Coronary Artery Disease (CAD). Keesokan harinya tanggal 6 Juni 2014, kasus merasa semakin sesak dan dipindahkan ke ICU dengan hasil foto thorak terdapat infiltrat. Kemudian terjadi perburukan dengan didiagnosa pneumonia dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pada tanggal 13 Juni 2014, kasus lalu dirujuk ke RS Rujukan FB, dan meninggal pada tanggal 14 Juni 2014 dini hari pukul 01.00 WIB. Telah dilakukan penyelidikan epidemiologi ke rumah penderita dan lingkungan sekitar oleh Tim Terpadu Kemenkes RI, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Puskesmas Pulogebang, Puskesmas Cakung, Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet), Binas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Sudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Timur, balai Kesehatan Hewan dan Ikan Provinsi DKI, didapat kemungkinan faktor risiko yaitu kontak lingkungan di salah satu pasar di Jakarta Timur, tempat di mana kasus membeli ayam hidup yang langsung dipotong di pasar tersebut pada 27 Mei 2014. Lingkungan rumah kasus bersih, tidak memelihara unggas di kompleks tersebut. Rumah kasus berbatasan dengan perkampungan rumah petak, namun penduduk di sana tidak ada yang memelihara ayam, hanya ada yang memelihara 2 ekor burung di dalam sangkar yang digantung di halaman rumah. Dengan bertambahnya satu kasus tersebut, sejak ditemukan pertama kali pada tahun 2005 hingga berita ini dipublikasikan, jumlah kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia adalah 197 kasus dengan 165 kematian. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si, Sp.F(K) selaku focal point International Health Regulation (IHR) telah menginformasikan kasus tersebut kepada WHO. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Posted: 23 Jun 2014 10:12 PM PDT Lebih kurang sepertiga dari penyebab kematian ibu melahirkan adalah perdarahan, sehingga akses terhadap pelayanan darah dalam jumlah yang cukup merupakan salah satu upaya pencegahan kematian ibu. Hal ini dapat lebih mudah dicapai jika semakin banyak donor darah sukarela yang secara rutin mendonorkan darahnya ke Unit Transfusi Darah (UTD), sehingga dapat disalurkan guna memenuhi permintaan darah dari fasilitas pelayanan kesehatan. Pelayanan darah yang aman dan berkualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan. Demikian sambutan Wakil Menteri Kesehatan RI, yang dibacakan Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si, Sp.F(K), pada pembukaan Seminar Hari Donor Darah Sedunia tahun 2014 yang bertema "Darah Aman untuk Menyelamatkan para Ibu" atau Safe Blood for Saving Mother, di Jakarta (24/6). Hari Donor Darah Sedunia, diperingati pada tanggal 14 Juni setiap tahunnya. "Ketersediaan darah di sarana kesehatan sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam mendonorkan darahnya", ujar Wamenkes. Saat ini jumlah persediaan darah masih belum dapat memenuhi kebutuhan. Di Indonesia, pemenuhan kebutuhan darah ideal pertahun adalah 2% dari jumlah penduduk, berarti dibutuhkan sekitar 4,8 juta kantong darah setiap tahunnya, sedangkan saat ini baru terpenuhi sekitar 3,5 juta kantong darah pertahun. Jumlah tersebut, tidak seluruhnya merupakan donor sukarela. Di beberapa daerah, didominasi oleh donor pengganti yang berasal dari anggota keluarga pasien. Mengingat darah juga dapat menjadi media penularan penyakit seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan Sifilis, maka diharapkan darah berasal dari donor risiko rendah. Donor risiko rendah ini salah satunya berasal dari Donor Sukarela. "Rekomendasi WHO, darah transfusi yang aman dan berkualitas berasal dari donor sukarela", tutur Wamenkes. Pada kesempatan tersebut, Wamenkes memberikan apresiasi tinggi kepada para pendonor sukarela, atas hadiah live-saving berupa darah yang telah mereka sumbangkan kepada para ibu melahirkan yang membutuhkan darah. "Pemenuhan kebutuhan darah sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan menyelamatkan nyawa seseorang. Untuk itu, mari berperan serta dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah sukarela", tandas Wamenkes. Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran (SDKI, 2012). Pada tahun yang sama, data Ditjen Gizi & KIA Kemenkes RI menunjukan bahwa penyebab kematian ibu melahirkan 35% adalah akibat perdarahan. Diharapkan dengan tersedianya pelayanan darah yang mudah diakses, aman dan berkualitas, kematian ibu melahirkan dapat dicegah sehingga AKI dapat diturunkan. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Posted: 23 Jun 2014 10:00 PM PDT Ramadhan adalah momentum perubahan dimana kita melatih diri melawan hawa nafsu salah satunya adalah MEROKOK. Melakukannya memang tidak mudah berawal dari niat, tekad diri sendiri dan dari hati kita. Berhenti Merokok adalah Kemenangan Kita. |
| Posted: 23 Jun 2014 09:58 PM PDT Ramadhan adalah momentum perubahan dimana kita melatih diri melawan hawa nafsu salah satunya adalah MEROKOK. Melakukannya memang tidak mudah berawal dari niat, tekad diri sendiri dan dari hati kita. Berhenti Merokok adalah Kemenangan Kita. |
| You are subscribed to email updates from Sehat NegerikuSehat Negeriku To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar