Kamis, 18 September 2014

Sehat Negeriku! - Misi Kesehatan di Tanah Suci Siaga terhadap Penyakit Menular

Sehat Negeriku! - Misi Kesehatan di Tanah Suci Siaga terhadap Penyakit Menular


Misi Kesehatan di Tanah Suci Siaga terhadap Penyakit Menular

Posted: 17 Sep 2014 09:50 PM PDT

Penyelenggaraan haji  tahun 2014 M/ 1435 mendapat perhatian khusus dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Fokus yang menjadi perhatian WHO diantaranya adalah bagaimana membangun jejaring koordinasi antara Misi Kesehatan (Medical Mission) negara-negara pengirim jemaah haji dengan pemerintah Arab Saudi khususnya dalam menghadapi virus MERS CoV dan Ebola.

 

Terkait fokus ini, WHO menyelenggarakan pertemuan antar negara pengirim jemaah haji Tahun 2014 M/ 1435, di Jeddah pada tanggal 16 – 17 September 2014. Pertemuan dihadiri 10 dari 100 negara yang mengirimkan jemaah haji dengan jumlah jemaah terbesar di dunia. Kesepuluh negara tersebut adalah Indonesia, Sudan, Nigeria, Malaysia, Yaman, India, Bangladeh, Pakistan, Turki, Iraq, Iran, Mesir dan Arab Saudi selaku Tuan Rumah.

 

Pertemuan bertujuan mengetahui kesiapan dan kesiapsiagaan setiap negara dalam pelayanan kesehatan pada musim haji tahun ini khususnya dalam menghadapi kemungkinan terjadinya penyakit menular. Sebagaimana dilansir sejumlah media dalam dan luar negeri belakangan ini sedang berjangkit virus MERS CoV dan Ebola. Melalui pertemuan ini, setiap negara diharapkan waspada terhadap penularan panyakit ini selama musim haji dan setelah penyelenggaraan haji, yaitu setelah jemaah kembali ke negara asal. Penyelenggaraan haji merupakan pergerakan massa (Mass Gathering) terbesar di dunia. Surveilans yang "as-ussual" tidak akan efektif untuk mengamati pergerakan massa (Mass Gathering). 

 

Pemerintah Arab Saudi dan WHO menghargai ibadah haji sebagai hak asasi setiap Muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu, telah disiapkan langkah-langkah antisipasi mewabahnya MERS CoV dan Ebola pada penyelenggaraan haji tahun 201 M/1435 H. Misi Kesehatan merupakan  entry point untuk deteksi dini dan manajemen kasus. Untuk itu, Pemerintah Arab Saudi dan WHO menekankan setiap negara pengirim jemaah haji untuk memperhatikan 3 hal utama dalam menghadap MERS CoV dan Ebola, yaitu dengan Meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan pelayanan kesehatan, baik individu maupun komunitas; Meningkatkan surveilans terhadap Emerging Desease dan Comunicable Desease seperti MERS Cov dan Ebola; serta Meningkatkan koordinasi antar Misi Kesehatan negara pengirim jemaah haji dan Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

 

Pertemuan yang berlangsung selama 2 hari ini menghasilkan rekomendasi yaitu Pentingnya transparansi dan ketepatan waktu dalam penyampaian informasi terkait adanya kasus penyakit menular; Perlindungan terhadap penyakit menular selama haji merupakan tanggung jawab bersama; Pentingnya edukasi pola hidup bersih dan sehat sejak sebelum keberangkatan haji sampai kembali ke negara asal; serta Memberi perhatian khusus terhadap jemaah haji dengan usia lanjut.

 

Sebagai entry point dalam deteksi dini dan manajemen kasus Misi Kesehatan tiap negara penting untuk memberikan pelatihan khusus terkait penyakit menular kepada setiap anggota tim misi kesehatan. Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh Misi Kesehatan adalah Mengikuti standar definisi kasus yang ditetapkan; Selalu menjaga sterilitas peralatan kesehatan di fasilitas pelayanan; serta Selalu menekankan pentingnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi semua anggota tim Misi Kesehatan.

 

Sebagaimana surat elektronik yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Misi Kesehatan Indonesia di Tanah Suci, dinyatakan bahwa krja sama dan sistem komunikasi yang baik antara Misi Kesehatan negara pengirim jemaah haji dengan Pemerintah Arab Saudi akan mengurangi risiko terjangkitnya penyakit menular. Salah satu contohnya adalah bila ditemukan kasus, maka perlu investigasi dan pengendalian penularan untuk mencegah kejadian wabah.

 

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak@depkes.go.id.

Layanan Kesehatan Terbang sebagai Solusi di Daerah Perbatasan

Posted: 24 Aug 2014 08:23 PM PDT

Menkes melakukan kunjungan kerja kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara sebagai provinsi termuda di Indonesia (25/8). Provinsi ini mempunyai wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia, baik perbatasan darat maupun perbatasan laut. Tersedianya akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu di wilayah perbatasan sangat penting.

 

Dalam sambutannya Menkes menegaskan agar jajaran Pemda Provinsi dan Kabupaten/ Kota tarakan dapat memberikan perhatian yang sungguh-sungguh pada pelayanan kesehatan serta upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di di wilayah perbatasan tersebut. "Bagi daerah perbatasan yang terletak di daerah geografi sulit dicapai perlu melakukan langkah terobosan yang  perlu dipertimbangkan pengoperasian layanan kesehatan terbang atau flying health care," kata Menkes.

 

Menkes menambahkan, bahwa perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemda bukan hanya untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, melainkan juga untuk makin merekatkan dan mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Dalam rangkaian kunjungan kerjanya, Menkes mengadakan pertemuan dan berdialog dengan jajaran kesehatan. Tema yang diangkat dalam pertemuan itu adalah "Menuju Rakyat Kaltara yang Lebih Sehat". Selain tenaga kesehatan dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Tarakan dalam kesempatan tersebut hadir pula Plt. Gubernur Kaltara DR. Ir. H. Irianto Lambrie, MM, Walikota Tarakan Sofian Raga dan pejabat eselon I dan II Kementerian Kesehatan.

 

Dalam dialog, Menkes menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada masyarakat dan jajaran Pemda Provinsi/ Kabupaten/ Kota se-Provinsi Kalimantan Utara  yang telah mendukung suksesnya pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Tanah Air pada umumnya dan di Kalimantan Utara serta Kota Tarakan pada khususnya.

 

Selain bertemu dengan jajaran Pemerintah Daerah, Menkes juga mengunjungi Puskesmas Gunung Lingkas dan RSUD Tarakan. Dalam kunjungannya, Menkes mengapresiasi bangunan fisik RSUD Tarakan. Sebagai kota yang terletak di daerah perbatasan, RSUD Kota Tarakan dinilai cukup megah. Dalam kunjungannya, Menkes meminta agar RSUD senantiasa tetap meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Menkes juga meski tidak seluruh fasilitas ada di dalam rumah sakit. "Banyaknya warga Negara Indonesia berobat ke luar negeri bukan karena kualitas dokter, namun mutu pelayanan di dalam rumah sakit sangat jelek, sehingga pengelola rumah sakit diharapkan mengedepankan mutu pelayanan'' ungkap Menkes.

 

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500 567, SMS 081281562620, faksimili (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat e mail kontak@depkes.go.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar