Sehat Negeriku! - Gunakan Antibiotika dengan Rasional |
- Gunakan Antibiotika dengan Rasional
- Menkes Resmikan Fasilitas Produksi Sediaan Onkologi
- Gaya Hidup Tidak Sehat Picu Kanker
- Pelaksaan Haji Pekan Ketiga
- Sebarkan PHBS melalui Pramuka
- Wujudkan Pelayanan Kesehatan Haji yang Lebih Baik
| Gunakan Antibiotika dengan Rasional Posted: 22 Sep 2014 04:27 AM PDT Mudahnya masyarakat mengonsumsi antibiotika serta dokter meresepkan obat ini menjadi perhatian Menkes dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH. Dengan tegas Menkes mengatakan agar jangan sembarangan minum antibiotika. “Masih banyak dokter, spesialis, bahkan masyarakat yang menggunakan antibiotika padahal tidak dibutuhkan,” kata Menkes saat meresmikan Fasilitas Produksi Sediaan Onkologi PT Fonko International Pharmaceuticals di Cikarang, Jawa Barat pada Senin (22/09/2014). Pemberian antibiotik yang tidak rasional menurut Menkes misalnya ketika dokter meresepkan pasien sakit flu, batuk, pilek biasa yang disebabakan oleh virus. Seharusnya pada kasus ini tidak perlu diberikan antibiotika. Selain penggunaan pada manusia, Menkes menemukan fakta bahwa antiobiotika digunakan pada peternakan dan perikanan. “Ini juga sangat berbahaya. Bahwa kita tahu penggunaan antibiotika baik di perikanan, peternakan, maupun di manusia yang tidak rasional dan tidak dengan dosis yang tepat lambat laun akan menyebabkan pada saat sewaktu-waktu kita membutuhkan antibiotika namun sudah tidak ada yang mempan lagi (resisten),” terang Menkes. Dalam kesempatan tersebut Menkes menceritakan kisah seseorang yang hampir resisten dengan semua obat antibiotika. Ibu muda berusia 28 tahun yang mudah sakit, tubuhnya mudah panas kemudian sembuh begitu berulang kali. Beruntung ibu ini akhirnya bertemu dokter baik yang memeriksa darah pasien. Hasilnya mengejutkan, ternyata ada tujuh antibiotika sudah resisten. Hal ini disebabkan karena ia sering berpindah-pindah dokter. Kembali lagi ia beruntung, masih ada satu antibiotika yang bisa menolongya. Diakhir cerita Menkes menyatakan bahwa dokter ini tak memberikan antiobiotika namun vitamin serta komponen-komponen lain untuk meningkatkan daya tahan tubuh didukung pemeriksaan laboratorium. Ibu ini pun berhasil sembuh. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Menkes Resmikan Fasilitas Produksi Sediaan Onkologi Posted: 22 Sep 2014 04:19 AM PDT Menkes dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH meresmikan Fasilitas Produksi Sediaan Onkologi PT. Fonko International Pharmaceuticals, di Cikarang, Senin (22/9/2014). Menkes menyambut baik peresmian ini sebagai wujud dukungan industri farmasi dalam mensukseskan program Pemerintah. Dengan demikian, masyarakat akan semakin mudah memperoleh obat onkologi yang bermutu dengan harga yang terjangkau serta mampu mengurangi impor obat. Hadir pada kesempatan ini Kepala Badan POM, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes dan jajaran Pimpinan PT Fonko International Pharmaceutical. Secara khusus Menkes menyampaikan terima kasih kepada PT. Fonko dan para peneliti yang berhasil mewujudkan fasilitas ini. Dalam sambutannya, Menkes menyatakan bahwa penyediaan obat onkologi dalam industri farmasi memerlukan investasi besar dan berkesinambungan – baik untuk infrastruktur maupun untuk pengembangan produk. Pengembangan kefarmasian di Indonesia, utamanya dalam pengembangan obat-obatan onkologi dan pengembangan teknologi pembuatannya perlu didukung dengan kegiatan riset. Ditambahkan, pembangunan fasilitas produksi onkologi sangat relevan dengan upaya Pemerintah untuk meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu dengan melaksanakan Jaminan Kesehatan Nasional sejak 1 Januari 2014. Pelaksanaan JKN akan meningkatkan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan berdampak pada meningkatnya kebutuhan obat untuk seluruh kelas terapi. "Oleh karena itu, demi suksesnya pelaksanaan JKN, saya minta dukungan dari seluruh jajaran industri farmasi di Tanah Air agar selalu siap memenuhi kebutuhan obat yang semakin meningkat. Hendaknya kesiapan tersebut juga didukung oleh jaringan distribusi yang sesuai standar di seluruh Indonesia," tegas Menkes. Menkes menyatakan saat ini hampir semua penyakit menular menurun di masyarakat. Namun sebaliknya, penyakit tidak menular terus meningkat. Pasien penyakit tidak menular seperti kanker, stroke, dan jantung, terus meningkat di negeri ini, sementara obat-obatan untuk mengobatinya masih banyak yang impor. “Apa yang dilakukan oleh PT Fonko untuk memproduksi sediaan onkologi, merupakan sesuatu yang sangat berguna,” kata Menkes. Menkes menuturkan, dulu penyakit stroke hanya menyerang usia tua, tetapi kini usia muda pun sudah kena. Begitu juga dengan penyakit kanker juga menyerang usia muda, bahkan anak-anak. "Ini sangat merisaukan,” ungkap Menkes. Menurut Menkes, penyebab penyakit tidak menular itu bisa jadi karena polusi di sekitar, perilaku seseorang atau dari orang tua. Menkes menyatakan perubahan pola hidup ini sangat terasa, sehingga obat-obat kanker akan terus meningkat kebutuhannya. “Teruslah produksi obat bermutu dan terjangkau dan kepada Badan POM untuk terus mendampingi farmasi yang membuat obat untuk rakyat,” ujar Menkes. |
| Gaya Hidup Tidak Sehat Picu Kanker Posted: 22 Sep 2014 03:59 AM PDT Penyakit kanker masih menjadi salah satu penyakit mematikan di Indonesia. Bahkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan adanya peningkatan angka pasien kanker dari tahun 2010 ke 2013. Salah satu penyebabnya adalah makin meningkatnya gaya hidup modern yang tidak sehat. Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH mengatakan bahwa dibandingkan dengan gaya hidup di Indonesia tahun 1970-an, perilaku hidup saat ini yang modern namun kerap meninggalkan gaya hidup tidak sehat memicu timbulnya penyakit. Akibatnya, penyakit yang dulu hanya menyerang orang tua kini sering ditemukan pada anak, remaja dan dewasa muda. “Perilaku hidup sekarang sangat berbeda dengan Indonesia 30 tahun yang lalu, tahun 1970-an. Dulu stroke identik dengan lansia 70 tahun ke atas. Tapi sekarang 40, 30 tahun sudah kena stroke. Bahkan ada juga yang umur 28 kena stroke,” tutur Menkes. Ditambahkan, bahwa saat ini yang mengkhawatirkan adalah banyaknya kasus kanker pada anak-anak. "Ini sangat memperihatinkan saya,” kata Menkes saat meresmikan fasilitas produksi sediaan onkologi milik PT Fonko International Pharmaceuticals di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (22/9/2014). Salah gaya hidup modern yang dikritik oleh Menkes adalah semakin banyaknya masyarakat yang meninggalkan konsumsi buah dan sayur, dan berganti menjadi konsumsi makanan siap saji. Padahal, makanan siap saji diketahui mengandung banyak karsinogen (penyebab kanker). Karena itu, selain menggiatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Menkes juga berharap ada produk obat kanker yang murah namun terjamin kualitas mutunya. Mulai dari pemilihan bahan, proses pembuatan hingga pengemasan produk, semuanya harus sesuai standar nasional dan internasional. Ferry Soetikno, CEO Dexa-medika Group yang menaungi PT Fonko International Pharmaceuticals mengatakan bahwa pihaknya kini sedang mempersiapkan obat sesuai yang diharapkan oleh Menkes. Meski sebagian besar bahan baku obatnya masih impor, namun dengan adanya fasilitas sediaan onkologi milik PT Fonko, pembuatan obat kanker kini bisa dilakukan di Indonesia. “Karena buatnya di Indonesia otomatis harganya tentu lebih murah daripada obat impor. Tentunya ini dilakukan dengan tetap menjamin kualitas mutu produk sesuai standar nasional dan internasional,” tutur Ferry. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Posted: 22 Sep 2014 03:13 AM PDT Sampai dengan pekan ke 3, Senin (22/9), jemaah haji reguler yang pergi ke Tanah Suci sebanyak 122.234 orang dari total jemaah haji reguler seluruh embarkasi yaitu 157.041 orang. Adapun jemaah haji yang telah tiba di Arab Saudi sebanyak 119.629 orang berasal dari 13 embarkasi di Indonesia. Hingga hari ke-21 ini, jemaah haji risiko tinggi (Risti) usia (> 60 tahun) yang masuk asrama sebanyak 33.943 orang (28%), dan Risti penyakit faktor risiko (PFR) sebanyak 58.103 orang (52.84%). Persentase jemaah haji risti dengan usia (> 60 tahun) tertinggi adalah embarkasi Padang sebanyak 41,73% dan persentase jemaah haji risti dengan penyakit faktor risiko (PFR) tertinggi adalah embarkasi Palembang sebanyak 64,88% dari jumlah jemaah yang masuk asrama haji. Total jemaah haji yang gagal berangkat sampai 22 September 2014 sebanyak 51 orang dan jemaah yang gagaI berangkat dikarenakan hamil sebanyak 9 orang. Data ini tidak termasuk jemaah gagal berangkat karena kendala penerbitan visa. Berdasarkan data sampai tanggal 22 September pukul 04.00 WIB diketahui bahwa jamaah wafat sebanyak 36 jamaah, 5 jamaah wafat di Embarkasi dan 31 jamaah wafat di Arab Saudi, dengan penyebab wafat tertinggi adalah penyakit Cardiovascular Diseases Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Posted: 22 Sep 2014 01:52 AM PDT Hari ini (22/9), Menkes dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional Satuan Karya Pramuka Bakti Husada memberi penghargaan kepada 15 orang Pimpinan Saka Bakti Husada Tingkat Nasional, di Jakarta. Dengan penghargaan ini, anggota Saka Bakti Husada (SBH) akan menjadi motivator dan terus memajukan SBH khususnya dan Gerakan Pramuka umumnya. Adapun penghargaan yang diberikan berupa Lencana Darmabakti kepada dr, Anung Sugihantono, M.Kes. Sementara Lencana Pancawarsa I kepada dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, dr. Ratna Rosita, MPH, dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA, dr. Yudi Prayudha, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes., dr. H. Andi Muhadir, MPH, dr. Desak Made Wismarini, MKM, drg. Usman Sumantri, M.Kes., Drs. Bayu Teja Muliawan, M.Pham, MM, Apt., drh. Wilfried Hasiholan Purba, MM, M.Kes., drg. Kartini Rustandi, M.Kes., Dr. Ir. Bambang Setiaji, M.Kes., Sugiharto, SKM, M.Kes., dan Febrima Wulan, SKM. Lencana Pancawarsa diberikan kepada pemimpin SBH Tingkat Nasional atas jasa dalam membina dan mengembangkan gerakan pramuka selama 5 tahun atau kelipatan 5 tahun. Sejak berdiri 29 tahun lalu tepatnya tanggal 17 Juli 1985, hingga kini SBH sebagai bagian dari Kemenkes dan Gerakan Pramuka perannya telah dapat dirasakan sebagai role model kaum muda berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Saka Bakti Husada juga berhasil mencitrakan kaum muda yang tidak merokok dan anti narkoba. Selain itu, SBH juga menjadi kader kesehatan yang berperan dalam pendidikan sebaya di lingkungan gugus depan dan atau unit pangkalan kegiatan SBH di berbagai lokasi di daerah. Dewasa ini Anggota Pramuka Saka Bakti Husada makin meningkat dan tersebar di seluruh provinsi serta kabupaten/ kota di Indonesia. Saat ini Anggota Pramuka Saka Bakti Husada diperkirakan berjumlah sekitar 600.000 orang atau dua setengah persen dari seluruh anggota Pramuka yang berjumlah 22 juta orang. Dalam sambutannya Menkes menyatakan, peranan pimpinan SBH mulai tingkat nasional hingga cabang di kabupaten/kota sangat strategis dalam memasukkan materi kesehatan dalam berbagai kegiatan kepramukaan. "Kakak-kakak sebagai pejabat dan pengelola program kesehatan tentu sangat peduli untuk menjadikan setiap orang dapat mampu hidup sehat. SBH sebagai bagian dari Gerakan Pramuka dan Kemenkes, tentu dapat didayagunakan dalam menyebarluaskan pemahaman hidup sehat khususnya bagi kaum muda dan masyarakat umumnya," terang Menkes. Pada kesempatan tersebut, Menkes juga meminta pengurus Pimpinan SBH di semua tingkatan berkomitmen untuk memberi dukungan sumberdaya yang cukup sehingga dapat menghasilkan pramuka yang terampil bidang kesehatan dan memiliki karakter yang kuat untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan. "Saya minta Badan PPSDM yang membina Poltekkes dan Bapelkes untuk terus melanjutkan pendidikan kepramukaan dengan aktif mendirikan gugus depan pramuka ataupun sebagai pangkalan SBH yang lulusannya diharapkan memiliki karakter yang kuat. Sejalan dengan ini kita juga harus mendukung kebijakan pemerintah yang menetapkan pendidikan kepramukaan sebagai ekstra kurikuler wajib di sekolah mulai tahun ajaran 2013-2014," tegas Menkes. Ditambahkan, tantangan SBH ke depan adalah memberikan keterampilan kepada adik-adik yang mempunyai efek menciptakan lapangan pekerjaan (job creation) serta berpotensi menjadi bekal hidup (life skill). "Tidak semua peserta didik berkesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Bila saja SBH berhasil menciptakan lapangan pekerjaan, maka inilah sumbangan bagi masyarakat dalam mengatasi pengangguran. Galilah setiap krida dan kecakapan yang dapat dikembangkan menjadi job creation yang berpotensi menjadi life skill kelak," ungkap Menkes. Menyambut Pertinas (perkemahan bakti tingkat nasional) SBH kelima yang akan diselenggarakan tahun 2016 di Provinsi Jawa Timur, Menkes selaku Ketua Mabi SBH Tingkat Nasional meminta para pejabat di Kemenkes untuk mendorong dan memajukan Saka Bakti Husada dengan komitmen dan memfasilitasi sumberdaya sesuai asuhan krida masing-masing. Pada kesempatan tersebut, Menkes juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka atas penganugerahan penghargaan Gerakan Pramuka yang diberikan kepada Pimpinan Saka Bakti Husada Tingkat Nasional oleh Bapak Presiden RI pada Hari Ulang Tahun Pramuka tanggal 14 Agustus 2014 lalu. Penghargaan ini diberikan kepada almarhum Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih mantan Menkes, dan Ibu Nafsiah Mboi sebagai Menkes saat ini. Diakhir sambutannya, Menkes mengajak kakak-kakak anggota dewasa baik sebagai majelis pembimbing, pelatih, pamong saka dan instruktur untuk lebih merapatkan barisan dan menyatukan gerak langkah untuk percepatan dalam pembentukan karakter kaum muda Indonesia. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Wujudkan Pelayanan Kesehatan Haji yang Lebih Baik Posted: 20 Sep 2014 12:06 AM PDT "Pelayanan kesehatan haji di Klotermerupakan ujung tombak dari seluruh rangkaian pelayanan kesehatan haji. Apabila pelayanan di Kloter berlangsung dengan baik, maka kesinambungan pelayanan kesehatan di tingkat sektor dan daerah kerja (Daker) akan berjalan dengan baik pula," ucap Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes yang juga sebagai Kabid Kesehatan PPIH, DR. dr. Fidiansjah, Sp.KJ pada acara rapat koordinasi pelayanan kesehatan TKHI Kloter yang diadakan di ruang terbuka lantai 3, Kantor Kesehatan Haji Indonesia Daker Makkah, (19/9). Selain Kabid Kesehatan PPIH, rapat dihadiri oleh Kasie Kesehatan Daker Makkah beserta jajaran di Kantor Kesehatan Haji Makkah, serta petugas TKHI Kloter sejumlah 213 orang dari 175 Kloter yang telah berada di kota Makkah. Dalam arahannya, Kabid Kesehatan berpesan kepada seluruh petugas TKHI untuk berkerja Keras, Cerdas, Ikhlas dan Tuntas, sesuai motto seluruh petugas kesehatan haji Indonesia. Selain itu, juga ditekankan kepada petugas TKHI Kloter untuk bekerja secara efektif dan efisien, dengan manfaatkan kecerdasan, sumber daya dan potensi yang tersedia, dalam upaya pelayanan kesehatan haji yang maksimal di Kloter. Dalam kesempatan ini pula, Kasie Kesehatan Daker Makkah, dr. M. Ilyas Ambo Tuwo, Sp.P,Sp.PD menegaskan kembali tupoksi seorang TKHI kloter. "Siap bekerja 24 Jam penuh tanpa pungutan biaya, serta melayani dengan sepenuh hati. Tidak boleh ada yang menetapkan jam kerja sendiri. Ingat kembali kontrak kerja, serta kewajiban petugas TKHI untuk melayani jemaah haji sepanjang waktu. Untuk menjaga kesehatan jemaah, utamakan pengawasan jemaah risti Kloter sebelum memasuki periode puncak Armina, agar kondisi jamaah dapat terkontrol dengan baik." Ilyas juga berpesan untuk tetap mengingat prinsip "Tugasku adalah Ibadah Utamaku". Petugas TKHI tidak pelu khawatir dalam urusan ibadah, mengingat menjaga dan melayani kesehatan jemaah haji pun merupakan suatu nilai ibadah tersendiri yang tentu mendapat balasan amal baik yang besar disisi Allah SWT. Kegiatan Rakor ini juga diselingi latihan peregangan (stretching) yang dipimpin oleh dr. Imran, Sp.KO. Peregangan perlu dilakukan rutin oleh oleh para petugas TKHI Kloter agar tetap bugar dan fit dalam menjalankan tugasnya nanti. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| You are subscribed to email updates from Sehat Negeriku » Sehat Negeriku To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar