Sehat Negeriku! - 10 September, Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia |
- 10 September, Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia
- GEMZAR atasi Dehidrasi dan Kendalikan DM
- Menkes Beri Penghargaan “The Best Role Model RS Vertikal” dalam Era JKN
- Menkes Kunjungi 3 Rumah Sakit Khusus Vertikal Terbesar di Indonesia
- 100 tahun Prof. Dr. Siwabessy
| 10 September, Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia Posted: 15 Sep 2014 05:25 PM PDT Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2003 telah menganggap serius isu bunuh diri, hingga menggandeng International Association of Suicide Prevention (IASP) untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia setiap tanggal 10 September.
Data WHO menyimpulkan bunuh diri telah menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat di negara maju dan menjadi masalah yang terus meningkat jumlahnya di negara berpenghasilan rendah dan sedang. Hampir satu juta orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri. Ini berarti kurang lebih setiap 40 detik jatuh korban bunuh diri.
Demikian disampaikan Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, dr. Eka Viora, Sp.KJ, pada pembukaan Pertemuan Koordinasi Tim Lintas Sektor Program Kesehatan Jiwa Pada Kelompok Berisiko berupa workshop yang diselenggarakan dalam rangka Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di salah satu hotel di bilangan Jakarta Selatan (15/9).
Menurut dr. Eka Viora, bunuh diri merupakan masalah yang kompleks karena tidak diakibatkan oleh penyebab atau alasan tunggal, karena merupakan interaksi yang kompleks dari faktor biologik, genetik, psikologik, sosial, budaya dan lingkungan.
"Sulit untuk menjelaskan mengenai penyebab mengapa orang memutuskan untuk melakukan bunuh diri, sedangkan yang lain dalam kondisi yang sama bahkan lebih buruk tetapi tidak melakukannya. Meskipun demikian, tindakan bunuh diri atau percobaan bunuh diri pada umumnya dapat dicegah", ujar dr. Eka Viora.
Jika melihat data WHO pada 2010, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100.000 jiwa. Tentu jika tidak ada upaya bersama pencegahan bunuh diri, angka tersebut bisa tumbuh dari tahun ke tahun. WHO meramalkan pada 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara global menjadi 2,4 per 100.000 jiwa.
Beberapa gejala dini yang harus diperhatikan untuk mendeteksi secara dini percobaan bunuh diri pada individu seperti: kesedihan, kecemasan, perubahan suasana perasaan, keresahan (kebingungan), cepat marah, penurunan minat terhadap aktivitas sehari-hari seperti kebersihan, penampilan, makan, sulit tidur, sulit untuk mengambil keputusan, perilaku menyakiti diri sendiri seperti tidak mau makan, melukai diri dan mengisolasi diri.
"Bunuh diri dapat dicegah, semua anggota masyarakat dapat melakukan tindakan yang akan menyelamatkan kehidupan dan mencegah bunuh diri pada individu dan keluarga, sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara individu, keluarga, masyarakat, profesi dan pemerintah untuk bersama mengatasi masalahnya", tandasnya.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak@depkes.go.id. |
| GEMZAR atasi Dehidrasi dan Kendalikan DM Posted: 15 Sep 2014 01:26 AM PDT Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes yang juga Kepala Bidang Kesehatan Haji Indonesia Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH meluncurkan program GEMZAR (Gerakan Minum Air Zam–Zam dan Makan Kurma) bagi jemaah haji Indonesia, di Jarwal Makkah (13/9). Peluncuran Gemzar ini penting sebagai salah satu solusi bagi jamaah haji Indonesia untuk terhindar dari dehidrasi atau kekurangan cairan dan pengendalian penyakit Diabetes Militus. Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah dr. M. Ilyas Ambo Tuwo, Sp.PD, Sp.P (K) dalam laporannya menyatakan bahwa minum air zam –zam penting untuk mengatasi dehidrasi bagi jemaah haji Indonesia, terutama bagi jemaah yang lanjut usia (Lansia) yang mudah sekali mengalami dehidrasi saat berada di Arab Saudi. “Begitu pula dengan makan kurma yang banyak mengandung kalori, baik untuk jemaah haji yang menderita Diabetes Mellitus (DM)," tambahnya. Hal senada disampaikan Kepala Daerah Kerja Makkah, Dr. Endang Jumali, LC, MA. "Gerakan GEMZAR ini sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW yang biasa Beliau kerjakan semasa hidup, yaitu setelah melaksanakan sholat dhuha, minum air zam – zam, dan siang hari memakan 7 butir kurma," tambahnya. Bertepatan denga peluncuran Program GEMZAR, dilakukan pula penyerahan secara simbolis air zam–zam, kurma, dan leaflet kandungan dan khasiat kurma, dari Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH kepada perwakilan Ketua Sektor di Daerah Kerja (Daker) Makkah dan perwakilan Ketua Kloter yang sudah tiba di Daker Makkah. Berdasarkan surat elektronik yang diterima Pusat Komunikasi Publik Kemenkes, kegiatan peluncuran dihadiri oleh Daker Mekkah, Kepala Seksi Kesehatan Daker Mekkah, Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan Pengawasan KBIH Daker Makkah, Para Kasubsi dan Penanggung Jawab di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), serta dihadiri oleh seluruh kepala sektor di wilayah Daker Makkah, para kordinator kesehatan, penanggung jawab perawat dan sanitasi surveilans di Sektor Daker Makkah, staf medis BPHI Daker Makkah, dan para ketua Kloter serta dokter Kloter yang telah memasuki Daker Makkah. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.kemkes.go.id dan email kontak@kemkes.go.id. |
| Menkes Beri Penghargaan “The Best Role Model RS Vertikal” dalam Era JKN Posted: 10 Sep 2014 03:17 AM PDT Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, memberikan penghargaan The Best Role Model Rumah Sakit Vertikal Kemenkes RI dalam Era Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Senin malam (8/9). Pemenang penghargaan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu RS Umum dan RS Khusus, dengan masing-masing terdiri dari juara 1, juara 2, juara 3. Untuk kategori RS Umum, pemenang I diraih oleh RSUP Sanglah, Bali. Kemudian predikat pemenang II dan III diraih secara berturut-turut oleh RSUP Fatmawati, Jakarta, dan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sementara itu, untuk kategori RS Khusus, pemenang pertama diraih oleh RS Ortopedi Prof.DR.R. Soeharso Surakarta. Sementara pemenang II dan III untuk kategori tersebut diraih secara berturut-turut oleh RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat atau yang lebih dikenal dengan RS Jiwa Lawang, dan RS Pusat Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta. "Saya sampaikan apresiasi kepada 6 rumah sakit vertikal Kemenkes yang berhak menyandang predikat The Best Role Model", ujar Menkes dalam sambutannya, Senin (8/9). Menurut Menkes, RS Vertikal berperan penting dalam menyukseskan pelaksanaan JKN, karena memiliki beberapa keistimewaan dalam beberapa hal, antara lain: 1) kompetensi sumber daya manusia; 2) fasilitas pelayanan yang lengkap; 3) berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan utama; dan 4) berfungsi sebagai rumah sakit rujukan. "Terwujudnya mutu pelayanan yang terbaik dan terwujudnya kepuasan pasien yang tinggi di lingkungan RS Vertikal secara bermakna menentukan kepuasan peserta JKN atas pelayanan kesehatan yang diperoleh dan turut menentukan suksesnya pelaksanaan JKN", tambah Menkes. Pemikiran ini menjadi dasar bagi dilaksanakannya kegiatan penilaian untuk menentukanThe Best Role Model RS Vertikal dalam pelayanan JKN ini. Penilaian dilakukan terhadap bisnis proses dalam memberikan pelayanan JKN secara optimal di rumah sakit vertikal. "Diharapkan penilaian ini juga akan mendorong RS Vertikal untuk menerapkan pelayanan JKN yang komprehensif, terintegrasi dan berorientasi pada pasien, sehingga dapat dijadikan contoh bagi RS Vertikal lain dan RS non-vertikal di Tanah Air. Menkes juga berpesan kepada jajaran RS Vertikal di seluruh Indonesia agar melaksanakan langkah-langkah berikut: 1) Meningkatkan kualitas pelayanan dan berusaha memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada seluruh peserta JKN; 2) Secara intensif melakukan sosialisasi dan diskusi interaktif mengenai sistem JKN dan kebijakan internal terkait dengan para dokter dan karyawan/karyawati rumah sakit; 3) Melengkapi rumah sakit dengan sarana dan prasarana yang diperlukan, termasuk sistem teknologi informasi untuk mendukung pelayanan; 4) Menyusun dan menerapkanclinical pathway sebagai acuan dalam memberikan pelayanan sebagai alat pengendali mutu dan biaya rumah sakit; 5) Menstandardisasikan penggunaan alat dan obat, termasuk mendisiplinkan penggunaannya dan mengaktifkan tim audit klinis rumah sakit. Pada kesempatan tersebut, Menkes menyatakan kebahagiaannya bahwa cakupan JKN semakin lama semakin meningkat. Hingga 4 September 2014, tercatat 127 juta lebih atau 127.309.887 orang telah menjadi peserta JKN. Jumlah peserta JKN sebanyak itu tentu memerlukan fasilitas kesehatan (Faskes), baik di tingkat pertama maupun rujukan tingkat lanjut. Dewasa ini, tercatat sebanyak 1551 RS dari 2353 RS di Indonesia yang telah menjadi penyedia pelayanan kesehatan, termasuk juga 33 RS Vertikal Kemenkes di dalam jumlah tersebut. "Saya harap jumlah Faskes baik di tingkat pertama maupun rujukan secara bertahap dapat terus ditingkatkan, sehingga akses seluruh peserta JKN pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu juga semakin meningkat", tandas Menkes. Berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI, Prof. dr. Prof. Akmal Taher, SpU (K), menerangkan bahwa kriteria penilaian terdiri dari 4 kategori besar, yaitu: 1) sistem pendaftaran; 2) sistem manajemen pelayanan; 3) sistem penagihan klaim JKN; dan 4) sistem penanganan complain. Seluruhnya, terdapat 17 (tujuh belas) variabel dari kriteria penilaian dengan bobot yang berbeda-beda.
Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI dengan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial bidang Kesehatan (BPJS Kesehatan).
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak@depkes.go.id. |
| Menkes Kunjungi 3 Rumah Sakit Khusus Vertikal Terbesar di Indonesia Posted: 09 Sep 2014 02:26 AM PDT Senin (8/9), Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, didampingi Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI, Prof. dr. Akmal Taher, SpU (K), mengunjungi tiga Rumah Sakit Khusus Vertikal Kemenkes RI yang terbesar di Indonesia dan ketiganya berlokasi di Ibukota, yaitu: 1) Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, yang telah mengembangkan berbagai layanan unggulan, termasuk Pusat Aorta dan Perifer, Pusat Aritmia, Pusat Congenital Heart Disease, Primary Per Cutaneous Intervention, dan Minimal Invasive Surgery; 2) Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSAB) Harapan Kita yang juga telah mengembangkan berbagai layanan unggulan, termasuk NICU dan Klinik Khusus Tumbuh Kembang, Klinik Infertilitas Bayi Tabung, dan Klinik Senyum Anak Sehat; serta 3) Rumah Sakit Kanker (RSK) Dharmais yang telah mengembangkan layanan palliative care dan klinik/ruang rawat onkologi anak. "Ketiga rumah sakit ini merupakan rumah sakit rujukan nasional yang berfungsi sebagai pengampu rumah sakit lain di berbagai provinsi. Saya minta agar ketiga rumah sakit ini benar-benar mampu menjadi center of excellence di bidang unggulannya", ujar Menkes. Menkes mengharapkan agar RS Khusus Vertikal Kemenkes dapat memperbanyak pengembangan layanan unggulan, terutama di ketiga rumah sakit tersebut. Dengan demikian, di samping kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan medik spesialistik semakin terpenuhi, fungsi pendidikan dan penelitian semakin diperkuat, dan mutu pelayanan juga semakin meningkat. Dalam era pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengutamakan upaya kendali mutu dan kendali biaya, hendaknya rumah sakit khusus melakukan penguatan pelayanan dengan Pemberdayaan Komite Medik dalam penyusunan Panduan Praktek Klinik dan Clinical Pathway untuk setiap pelayanan yang diberikan. Selanjutnya, agar dilakukan pula upaya mendorong penerapannya oleh setiap klinisi dengan sungguh-sungguh. Upaya ini dapat memacu rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang bermutu dengan biaya yang terjangkau. Menkes juga menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan JKN sangat ditentukan oleh komitmen seluruh sumber daya manusia baik tenaga kesehatan maupun non-kesehatan yang berada di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. "Utamakan patient safety dan berikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat, Pelayanan terbaik hendaknya tidak hanya diberikan dalam aspek pelayanan medik dan keperawatan akan tetapi juga dalam aspek sikap dan perilaku, seperti: keramahan, perhatian, empati, kesediaan berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya secara terbuka, jelas, dan komunikatif tentang masalah kesehatan yang dihadapi pasien", kata Menkes. Usai berdialog dengan para direksi dan keluarga besar dari ketiga rumah sakit, Menkes berkesempatan untuk mengunjungi Ruang Intesive Care Unit (ICU) dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSJPD Harapan Kita; 2) Klinik Khusus Tumbuh Kembang dan Ruang Perawatan Pasien JKN di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSAB) Harapan Kita; serta 3) Ruang Rawat Onkologi Anak dan Poli Paliatif Care Rumah Sakit Kanker (RSK) Dharmais di Jakarta. Prevalensi Kanker dan Penyakit Jantung Coroner serta Angka Kematian Ibu Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk, artinya pada tahun 2013 terdapat sekitar 3 juta orang pasien kanker di seluruh Indonesia. Sedangkan, prevalensi Hipertensi adalah 25,8% pada penduduk di atas usia 18 tahun pada tahun 2013 dan prevalensi penyakit jantung coroner adalah 1,5% dari penduduk di atas 15 tahun atau sekitar 2,6 juta penduduk di atas 15 tahun pada tahun 2013. Biaya untuk penanganan kanker dan penyakit jantung di Indonesia juga sangat tinggi. Dalam pembiayaan Jamkesmas tahun 2012, pengobatan kanker menempati urutan ke-4 setelah hemodialisa, thalassemia, dan TBC, dengan total sebesar Rp. 144,7 miliar. Keadaan ini tentu menjadi beban ekonomi dan sosial masyarakat. Untuk menekan beban pelayanan kesehatan yang diakibatkannya, perlu upaya penguatan pelaksanaan upaya promotif-preventif, termasuk upaya deteksi dini penyakit tidak menular. Di samping itu, salah satu tantangan besar lainnya yang harus kita sikapi dengan sungguh-sungguh adalah upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Mengutip hasi Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup pada 2012. Sedangkan pada Angka Kematian Bayi pada tahun 2012 adalah 32 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara itu, sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 adalah menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline |
| Posted: 30 Aug 2014 01:24 AM PDT Pada tahun 1974, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Indonesia bebas penyakit polio. Suatu prestasi yang membanggakan posisi Indonesia di dunia Internasional. Itulah salah satu keberhasilan Prof. dr. GA. Siwabessy, Menteri Kesehatan periode 1966-1978. Diantara Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. GA. Siwabessy adalah tokoh yang paling lama menjabat sebagai Menkes, yaitu tahun 1966 di bawah kabinet pemerintahan Presiden Soekarno dan berakhir pada tahun 1978 di bawah kabinet Presiden Soeharto. Beliau mengabdi kepada negara sebagai Menteri Kesehatan dan Ketua Tim Dokter Kepresidenan dalam dua era yang berbeda. Sudah seabad usia Prof. Dr. Siwabesy dan telah lama pula meninggalkan kita semua, namun peninggalan almarhum masih dapat dirasakan bangsa Indonesia hingga kini. Tidak berlebihan bila nama beliau diabadikan sebagai nama auditorium Kementerian Kesehatan. Ini dilakukan sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasa almarhum di dunia kesehatan. Dalam memperingati 100 tahun Prof. Dr. Siwabessy berbagai kegiatan dilakukan diantaranya yaitu penerbitan buku berjudul Sang Upuleru yang ditulis oleh para kerabat dan tokoh nasional. Serta acara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang diselenggarakan Yayasan Siwabessy. "Dari tulisan-tulisan ini kita dapat mengetahui ketulusan pengabdian beliau kepada bangsa dan negara pada umumnya dan bidang kesehatan pada khususnya," ujar Menkes pada acara peringatan 100 Tahun Prof. Dr. GA Siwabessy, di Jakarta (29/8). Pada kesempatan tersebut, Menkes juga memberikan penghargaan Ksatria Bakti Husada Aditya untuk almarhum. "Aditya" merupakan tingkat tertinggi dalam penghargaan bidang kesehatan kepada perorangan "Ksatria Bakti Husada". Pada periode pertama diangkat sebagai Menkes dalam Kabinet Ampera, Prof. Siwabessy meletakkan fondasi pembangunan kesehatan nasional melalui stabilisasi sosial politik dan sosial ekonomi serta mengusahakan manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohani. Kinerja Prof. Siwabessy selama 2 tahun pertama dalam fase penyelamatan dan rehabilitasi dinilai sangat memuaskan sehingga dipercaya untuk melanjutkan ke periode berikutnya dengan tugas untuk menyelesaikan fase konsolidasi dan stabilisasi di bidang kesehatan pada tahun 1968. Sejumlah keberhasilanpun dicapai beliau selama fase tersebut, diantaranya membangun kembali kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional setelah Indonesia menjadi anggota PBB. Selain itu, dengan memanfaatkan bantuan dana luar negeri, Prof. Siwabwssy membangun laboratorium rumah sakit di Bandung, intensive care (gawat darurat) di Jakarta, floating hospital (kapal rumah sakit) di Maluku, fasilitas dan peralatan kesehatan rumah sakit umum di Semarang dan Purwokerto serta pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) secara integral. Banyak kesuksesan lain yang ditorehkan Departemen Kesehatan di bawah kepemimpinan Prof. DR. G.A. Siwabessy. Antara lain adalah memulai pembangunan sarana kesehatan yang terdiri dari Puskesmas dan tenaganya, pembangunan Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (Samijaga) di seluruh Indonesia, pengadaan pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit, pengadaan dan pengawasan obat, pemberantasan penyakit menular, pengembangan laboratorium, penelitian dan surveilans, kesehatan gigi dan jiwa, pendidikan kesehatan, pendidikan kesehatan masyarakat, pendidikan health education specialist, penyuluhan kesehatan sampai dengan pembentukan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (Asuransi Kesehatan, yang kini telah menjadi Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Kesehatan). Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.kemkes.go.id dan alamat email kontak@kemkes.go.id. |
| You are subscribed to email updates from Sehat Negeriku » Sehat Negeriku To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar