Sehat Negeriku! - HILANGKAN MITOS TENTANG KANKER |
| HILANGKAN MITOS TENTANG KANKER Posted: 07 May 2014 06:08 PM PDT Plt Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Agus Purwadianto, Kemenkes RI, menyampaikan pentingnya menghilangkan mitos tentang kanker. Hal tersebut disampaikan pada saat membuka seminar sehari berjudul "Hilankan Mitos tentang Kanker" yang merupakan puncak peringatan Hari Kanker Sedunia 2014, di Jakarta (8/5). Hari Kanker Sedunia sendiri diperingati setiap tanggal 4 Februari.
Ada 4 mitos terkait kanker yang harus dihilangkan yaitu 1) Kita tidak perlu tahu tentang kanker, 2) tidak ada tanda dan gejala kanker, 3) tidak ada yang dapat dilakukan terkait kanker, dan 4) tidak ada hak dalam pelayanan kanker. Faktanya, kita harus tahu tentang kanker karena kanker dapat dicegah, diobati dan disembuhkan jika diketahui lebih dini, dan kanker bukan penyakit kutukan. Kanker juga dapat diketahui tanda dan gejalanya, banyak hal yang dapat dilakukan masyarakat mulai dari pencegahan dan penanggulangan kanker, serta setiap orang berhak atas pelayanan kanker.
Saat ini penyakit tidak menular, termasuk kanker menjadi masalah kesehatan utama baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut data WHO tahun 2013, insidens kanker meningkat dari 12,7 juta kasus tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus tahun 2012. Sedangkan jumlah kematian meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi 8,2 juta pada tahun 2012. Kanker menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskular. Diperkirakan pada 2030 insidens kanker dapat mencapai 26 juta orang dan 17 juta di antaranya meninggal akibat kanker, terlebih untuk negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat.
Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk, atau sekitar 330.000 orang. Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru dan kanker kolorektal. Berdasarkan estimasi Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, insidens kanker payudara sebesar 40 per 100.000 perempuan, kanker leher rahim 17 per 100.000 perempuan, kanker paru 26 per 100.000 laki-laki, kanker kolorektal 16 per 100.000 laki-laki. Berdasarkan datra Sistem Informasi Rumah Sakit 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.014 kasus (28,7%), kanker leher rahim 5.349 kasus (12,8%).
Selain kejadian yang tinggi, pembiayaan untuk kanker juga cukup tinggi. Hal ini karena penanganan kanker relatif lebih mahal dibanding penanganan penyakit lainnya. Pembiayaan penanganan kanker di Indonesia cukup tinggi. Pembiayaan kanker pada Jamkesmas tahun 2012, pengobatan kanker menempati urutan ke-4 setelah hemodialisa, thalassemia, dan TBC, sebesar Rp. 144,7 miliar
Bersamaan dengan pelaksanaan Seminar, pada kesempatan tersebut juga diluncurkan Buku Panduan Layanan Integrasi Infeksi saluran Reproduksi (ISR)/Infeksi Menular Seksual (IMS) dan deteksi dini kanker leher rahim dengan Inspeksi Visual menggunakan Asam asetat (IVA), serta deteksi dini kanker payudara. Hal tersebut sebagai upaya Kemenkes dalam peningkatan pelayanan di fasilitas kesehatan.
Pesan pokok hari kanker sedunia di Indonesia tahun ini, yaitu: 1) Ayo cegah dan atasi kanker dengan menghindari faktor risiko (merokok, kurang aktivitas fisik, dan diet tidak sehat), mengenali tanda dan gejala, dan melakukan deteksi dini, 2) Ayo lakukan deteksi dini kanker payudara dengan periksa payudara Sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis payudara/Clinical Breast Examination (CBE), serta deteksi dini kanker serviks dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), dan 3) Ayo kenali tanda dan gejala kanker pada anak.
Seminar hari kanker sedunia sendiri menghadirkan beberapa narasumber berkompeten yang menyampaikan berbagai materi tentang kanker yaitu (1) Kebijakan Pengendalian Kanker, (2) Faktor Risiko Kanker, (3) Vaksinasi HPV, (4) Deteksi Dini Kanker Payudara, (5) Deteksi Dini Kanker Leher Rahim (6) Integrasi IMS-IVA, (7) Penemuan Dini Kanker pada Anak, (8) Perkembangan Teknologi Pengobatan Kanker, (8) Program Paliatif di Indonesia, dan (9) Sistem Rujukan dan Pembiayaan Kanker.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id. |
| Cegah MERS CoV, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan di Pintu Masuk Negara Posted: 05 May 2014 01:41 AM PDT WHO mengeluarkan peringatan penting tentang penyebaran Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV) berupa travel advise. Sampai dengan 1 Mei 2014, WHO tidak menerapkan travel restriction. “Terkait peningkatan kasus MERS Cov yang sangat signifikan di Timur Tengah, hingga saat ini WHO belum menyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), apalagi pandemi”, ujar Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pada Rapat Koordinasi Tingkat Menteri di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Jakarta (5/5). Menkes menyatakan bahwa pemerintah Indonesia memperhatikan secara serius masalah MERS CoV karena banyaknya warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Arab Saudi sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), atau menjalankan ibadah haji dan umroh. "Kasus MERS CoV tidak hanya ditemukan di Jeddah, tetapi sampai dengan Mekkah dan Madinah. Ini merupakan kota-kota yang sering dikunjungi jemaah Indonesia", kata Menkes. Untuk itu, Kemenkes telah meningkatkan kesiapsiagaan di point of entry untuk mendeteksi kesehatan para jemaah baik haji maupun umroh saat kembali ke Tanah Air, melalui penyebaran Health Alert Card (HAC), pemasangan leaflet dan banner di 49 Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), termasuk 13 KKP Embarkasi. Selaras dengan hal tersebut, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Gatot Abdullah Mansyur, menyatakan bahwa akan bersama-sama Kemenkes RI untuk meningkatkan kesiapsiagaan di pintu masuk negara khususnya melakukan pemeriksaan kepada TKI yang pulang ke Indonesia. Selain itu, bersama dengan Kementerian Luar Negeri juga terkai peningkatan alertness bagi sekitar 1,2 juta TKI di wilayah Jazirah Arab. Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama RI, Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si, menyerukan agar para jemaah dari Indonesia yang akan berangkat ke wilayah Jazirah Arab untuk dapat mengetahui dan berhati-hati serta melakukan langkah pencegahan selama menjalankan ibadah haji maupun umroh. MERS CoV merupakan penyakit sindroma pernapasan yang disebabkan oleh novel corona virus. Gejala yang sering dialami, diantaranya demam, batuk dan sesak napas, bersifat akut, dan biasanya pasien memiliki penyakit ko-morbid (penyerta). Situs Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengabarkan, sejak pertama kali dilaporkan pada September 2012 di Saudi Arabia sampai dengan tanggal 26 April 2014 terdapat 261 kasus konfirmasi dengan 93 kematian akibat virus MERS COV. Hingga saat ini kasus MERS CoV telah ditemukan di 14 negara baik di wilayah Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Asia dan belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin untuk pencegahan virus korona tersebut. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id. |
| You are subscribed to email updates from Sehat NegerikuSehat Negeriku To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar