Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia |
- Cara Mengenali Korban Sodomi dari Anus Anak
- Ruam Pada Wajah dan Cara Mencegah Lupus
- MERS, Bagaimana Penyebaran dan Resiko Kematian
| Cara Mengenali Korban Sodomi dari Anus Anak Posted: 15 May 2014 01:22 AM PDT DokterSehat.com – kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak wajib diwaspadai oleh para orangtua. Seperti tragedi yang menimpa seorang bocah berinisial M (berusia 6 tahun) yang menjadi korban sodomi di sekolahnya oleh pegawai cleaning service. Seharusnya, sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk anak-anak. Apalagi sekolah bertaraf internasional. Berdasarkan psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, menyatakan, pemeriksaan dubur untuk mengenali anak-anak korban sodomi sebenarnya tidak membutuhkan prosedur khusus. Pemeriksaan anus bahkan dapat dilakukan hanya dengan mata telanjang. “Anak atau siapa pun yang telah menjadi obyek penyemburitan atau sodomi akan memiliki anus berbentuk corong. Mirip dengan tabung kaca yang ada pada lampu semprong. Benar-benar bolong seperti tabung. Lewat pemeriksaan mata telanjang, anus berbentuk corong itu bisa langsung dilihat, jadi tak membutuhkan prosedur khusus,” ungkap Reza melalui Kompas.com, menanggapi rencana pihak kepolisan melakukan pemeriksaan dubur anak jalanan guna mendukung pemberantasan eksploitasi anak terkait kasus pelecehan seksual. Akibat perlakuan sodomi, lanjutnya, korban biasanya akan mengalami masalah dengan organ pencernaannya, terutama saat buang hajat. “Benar-benar bolong seperti tabung. Efeknya, mereka akan kesulitan menahan buang air besar karena otot-otot penahan pembuangannya sudah rusak,” ujar Amriel. Amriel menekankan, walaupun tidak dibutuhkan prosedur khusus, pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan dampak psikologis anak-anak yang menjalaninya. Sebelum pemeriksaan, perlu ada pendekatan dan sosialisasi yang tepat kepada anak dan pihak keluarga. “Terlepas dari itu, jika dilakukan lewat paksaan, bisa kita bayangkan, akan memunculkan perasaan takut dan sejenisnya. Untuk mengatasinya, sekali lagi, awali dengan sesi informasi terlebih dahulu, baik untuk si anak maupun keluarganya,” ujarnya. Hukum dan Pengadilan Kasus Sodomi Anak Pengamat Sosiolog Univeristas Indonesia (UI), Devi Rahmawati menyebutkan yang sedikit mengkawatirkan mayoritas, kata dia juga, tindakan pelecehan yang dialami anak itu bukannya hanya dilakukan remaja, orang dewasa, tetapi juga kakek-kakek. Tindakan itu termasuk fase yang kritis atau melanggar HAM berat. "Ini bukan hanya pidana, tapi HAM berat. Anak dalam pembinaan harusnya dilindungi, bukan dilecehkan," terangnya melalui INDOPOS (Grup JPNN) Selain unsur budaya, sambung Devi, sulitnya mengungkap kasus kekerasan seksual pada anak dan membawa pelakunya ke meja hijau diduga karena 'otoritas sosial' para pelaku lebih tinggi daripada korban. Ditambah dengan lemahnya sistem perundangan untuk menjerat pelaku. Kekhawatiran bakal tidak dipercaya, menjadi kendala pengungkapan kasus kekerasan seksual dengan pelaku sedarah sering terjadi. Apalagi kekerasan seksual di lingkungan keluarga atau asrama sekolah cenderung tanpa saksi mata. "Keterangan korban di bawah umur tidak bisa diakui dalam sistem perundangan kita. Pelaku umumnya memiliki otoritas lebih tinggi ketimbang korban sehingga korban memilih diam. Pelakunya bisa guru, ayah, atau kakak tiri atau orang lain. Untuk mengungkap, para penyidik biasanya mengandalkan hasil riset laboratorium dan kepiawaian para ilmuwan meyakinkan majelis hakim," ujar juga. Korban Menjadi Pelaku Sedangkan, Pangamat Psikologi Universitas Indonesia (UI), Fitriani F Syahrul menegaskan penyimpangan sosial yang bisa jadi disebabkan oleh depresi yang kemudian menyebabkan rusaknya pola pikir para pelaku pelecehan terhadap anak-anak. Sedangkan kasus perceraian juga menjadi faktor lain penyebab perkosaan di dalam keluarga. Belum lagi, anak-anak cenderung menelan mentah-mentah 'doktrin' untuk patuh kepada orang tua. "Bisa saja pelaku frustrasi dengan kehidupannya sendiri, kemudian mencari pelampiasan kepada orang lain. Bahkan bisa anggota keluarga jadi target. Kata-kata 'nurut orang tua' ini jadi soft terror. Nah ini yang tidak disadari secara langsung dan membuat pelecehan seksual terhadap anak-anak terjadi," paparnya. Fitriani juga menjelaskan, dampak psikologis pada korban anak-anak biasanya tidak berbeda jika ditinjau dari jenis kelamin. Para korban pelecehan seksual itu cenderung tertutup, sulit beradaptasi, bermuatan energi negatif dan sensitif. Selain karakteristik kepribadian, jenis pelecehan seksual yang dialami juga memberikan dampak yang berbeda. Seperti pelecehan fisik biasanya meninggalkan trauma yang lebih besar dibandingkan kekerasan pelecehan verbal. Selain itu, frekuensi dan durasi terjadinya pelecehan seksual juga berpengaruh terhadap dampak yang ditimbulkan ketika sang anak besar nanti. Semakin sering frekuensinya, atau semakin lama durasinya, maka trauma yang ditimbulkan pada anak juga semakin besar. Semakin besar trauma yang ditimbulkan, maka semakin panjang waktu pemulihan yang dibutuhkan. "Side effect-nya anak mengalami gangguan paranoid, trauma berkepanjangan. Sering kali yang mengalami trauma seperti itu ketika dewasa mereka bermasalah terkait hubungan dengan lawan jenis. Mereka pandangannya jadi negatif pada lawan jenis, karena gangguan psikologis yang berat," tuturnya. Yang lebih ironisnya, sambung Fitriani, dampak lain dari efek kekerasan seksual yang diterima anak adalah mereka kelak bisa tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Apalagi jika mereka tidak mendapat penanganan yang baik dan kurang penanaman nilai religiusitas, maka sangat mungkin kelak dirinya akan mempraktikkan tindakan tersebut alias menjadi pedofil. Selain itu, tingkat kenakalan anak-anak korban kekerasan seksual akan menjurus kepada pergaulan bebas yang mendasar pada perilaku seks menyimpang. "Perilaku seks anak korban kekerasan ke depan akan menyimpang dan menjurus ke pergaulan bebas. Inilah yang terjadi di negara berkembang, sehingga penyebaran penyakit kelamin hingga HIV terus menjangkit," cetusnya juga. Dia juga mengaku, sangat sulit menyembuhkan anak korban kekerasan seksual yang trauma berat. "Bisa jadi mereka nanti akan menjadi pedopil atau yang lain. Inilah yang harusnya dihindari," kata Fitriani. Oleh karena itu, lanjut Fitriani, untuk mengembalikan trauma anak yang menjadi korban pelecehan seksual perlu penanganan yang seirus. Di antaranya, keperdulian keluarga yang mengembalikan rasa percaya diri, terutama pada rasa aman kepada anak untuk bercerita. Utamanya, peran lingkungan agar sang anak korban kekerasan tidak dikucilkan lingkungannya. "Ya hanya dua itu yang penting. Dukungan dari keluarga dan lingkungan. Jika ini bisa dikendalikan maka efek positif akan dapat ditekan. Selain itu juga perlunya penindakan tegas dari aparat kepolisian untuk menindak keras pelaku pelecehan seksual agar memberikan efek jera dan tindakan kekersan seksual berkurang," paparnya juga. (cok) Lima Cara Hindari Kekerasan Seksual Pada Anak 1. Tidak Ada Rahasia 2. Jangan Kenakan Aksesoris Nama 3. Ajarkan Menjaga Organ Tubuh 4. Ajarkan Jangan Percaya Orang Asing 5. Mencari Perlindungan |
| Ruam Pada Wajah dan Cara Mencegah Lupus Posted: 15 May 2014 12:33 AM PDT Pertanyaan Konsultasi Trimksh sebelumnya dok sudah mau menjawab, Selain dari itu saya sering merasa terkena penyakit mag. Perihal rasa pegal2 dan mudah capai karena memang tidak ada tenaga saja karena kecapaian. Karena saya belakangan suka membaca di internet sehingga tidak sengaja bertemu artikel ini dan mohon konsultasinya dengan dokter. Terimakasih Salam Tia Dear Dokter Selamat pagi dokter, apakah penyakit lupus itu apa tidak ada obatnya? Dan bagaimana cara agar tidak terkena lupus? Salam Kartika Jawaban Konsultasi Seperti Yg telah disebutkan pada artikel di link berikut, bahwa LUPUS juga menyebabkan keluhan secara sistemik, bukan hanya rumah merah di wajah. Rumah merah di wajah Yg tidak gatal bisa Karena pengaruh lainnya, untuk Lebih jelasnya kbisa periksakan ke dokter spesialis kulit untuk kasus ibu Tia. Untuk ibu Kartika, Lupus merupakan penyakit autoimmune, dimana kita tidak bisa mengontrol agar seseorang tidak terkena penyakit Ini Karena penyakit Ini muncul dengan sendirinya di tubuh. Sayangnya pengobatannya hanya dapat mengontrol Salam Dr. Vanny Bernadus |
| MERS, Bagaimana Penyebaran dan Resiko Kematian Posted: 15 May 2014 12:16 AM PDT Dengan tidak adanya obat antivirus atau vaksin untuk mengobatinya , penyakit MERS telah disebut “killer bug” dengan alasan yang bagus. Di Arab Saudi setidaknya terdapat 414 orang telah terinfeksi dan lebih dari 1/4 nya yaitu 115 orang telah meninggal – bahkan beberapa dari mereka petugas kesehatan yang tertular dari pasien . Periode antara paparan virus dan gejala berkembang ( batuk , demam , sesak napas ) adalah 5 hingga 14 hari sebagai periode inkubasi – yang adalah waktu yang lama untuk menunggu. Mers adalah jenis baru dari coronavirus , keluarga infeksi virus yang menyebabkan pilek umum serta penyakit SARS yang sempat membuat Asia Tenggara dulu guncang ( sindrom pernafasan akut parah ). Mers menyebabkan infeksi pernapasan yang menyebabkan pneumonia dan , berpotensi menyebabkan gagal ginjal . Virus ini dapat ditularkan melalui kontak secara dekat antar orang tetapi tidak menyebar dengan mudah. Juga perlu diketahui Mers bukan virus yang kuat dan dapat dibunuh oleh desinfektan rumah tangga sebagimana hasil didiagnosis dengan tes laboratorium. Sehingga pastikan rumah anda selalu anda bersihkan menggunakan karbol pembunuh kuman. Ada bukti yang berkembang bahwa virus berasal dari unta di Timur Tengah. Sangat disaarankan wisatawan yang ke Timur Tengah untuk menghindari ” kontak yang tak perlu dengan unta ” , termasuk daging unta mentah atau susu unta mentah. Untuk menghindari penyebaran infeksi antar manusia , Anda harus mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan sepenuhnya kering, hindari menyentuh mata, hidung atau mulut terlalu sering untuk mencegah virus menginfeksi anda. Usahakan selalu menutup mulut saat batuk atau bersin . Departemen Kesehatan di Arab Saudi merekomendasikan bahwa orang-orang di atas 65 atau dengan penyakit kronis , wanita hamil , dan anak-anak di bawah 12 menunda setiap ziarah sementara mengingat jumlah orang yang terinfeksi Mers meningkat . Tetapi virus ini bukan berarti akhir dari segalanya sebagaimana perkataan W Ian Lipkin dari Columbia University epidemiologi “Saya optimis bahwa kita akan megatasi ini, Saya pikir kita akan dapat menghentikan wabah ini . ” Ia juga mengatakan bahwa banyak kasus penyakit dapat ditelusuri kembali ke unta – sebuah ” waduk besar ” dari infeksi di Semenanjung Arab . Ia memperkirakan bahwa mayoritas unta di Arab Saudi adalah , atau telah , terinfeksi MERS . Bagaimana MERS menyebar . Para ilmuwan tahu bahwa MERS dapat menyebar dalam sekresi pernapasan , kata Perl , yang merupakan bagian dari tim yang meneliti penyakit ini. Bukti yang muncul bahwa virus ternyata dapat bertahan hidup pada permukaan, yang berarti MERS mungkin menyebar melalui sentuhan. Ia menyatakan bahwa setelah pasien terkena penyakit parah kemungkinan terjadi kematian masih tetap ” di kisaran 60 % . ” Harapan untuk penyembuhan ? Saat ini, dokter mengobati MERS dengan mengendalikan gejala , namun para peneliti mulai berusaha memerangi virus secara langsung, kata Perl . Dokter sedang mengusahakan dosis untuk manusia yang diperuntukkan untuk membantu sistem kekebalan tubuh mereka sendiri dalam melawan MERS. Saat ini peneliti juga membuat vaksin untuk unta yang mungkin dapat mencegah penyebaran MERS pada manusia. “Ini bukan pengobatan manusia tetapi ini adalah bentuk strategi pencegahan semacam seperti rabies , di mana kita melakukan vaksinasi pada hewan dan bukan manusia.” |
| You are subscribed to email updates from Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan - Dokter Sehat To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar