Senin, 19 Mei 2014

Sehat Negeriku! - Mari Cegah MERS CoV

Sehat Negeriku! - Mari Cegah MERS CoV


Mari Cegah MERS CoV

Posted: 19 May 2014 04:34 AM PDT


Virus MERS CoV Yang Akhir Akhir ini Meresahkan Masyarakat Indonesia adalah Virus yang Belum Di Temukan Vaksinnya. Banyaknya Warga negara Indonesia yang Berkunjung ke kawasan Timur Tengah Membuat Kita Harus Waspada agar tidak terjangkit Virus MERS CoV ini. Apa dan Bagaimana Virus Itu Menular? Dan Bagaimana kita mencegahnya?Saksikan Video Berikut ini.

Sabtu, 17 Mei 2014

Blog Dokter - Redakan Stress Dengan Olahraga

Click here to read this mailing online.

Your email updates, powered by FeedBlitz

 

 
Here are the latest updates for janetashop0.health@blogger.com


"Blog Dokter" - 1 new article

  1. Redakan Stress Dengan Olahraga
  2. More Recent Articles
  3. Search Blog Dokter
  4. Prior Mailing Archive

Redakan Stress Dengan Olahraga

Olahraga merupakan cara paling bagus untuk menjaga kondisi tubuh tetap sehat sekaligus membantu meredakan stress. Berikut beberapa hal yang bisa dicoba agar olahraga bermanfaat untuk meredakan stress yang sedang melanda. Cobalah untuk melakukan olahraga erobik seperti joging, menari, bersepeda atau berjalan sedikitnya 30 menit minimal 5 hari dalam seminggu. Mulailah berolahraga secara bertahap tetapi bertahan […]
    


Sponsor message
powered byad choices

More Recent Articles


Sponsor message
powered byad choices



 
Email subscriptions powered by FeedBlitz, LLC, 9 Thoreau Way, Sudbury, MA 01776, USA.

 

Kamis, 15 Mei 2014

Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia

Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia


Cara Mengenali Korban Sodomi dari Anus Anak

Posted: 15 May 2014 01:22 AM PDT

DokterSehat.com –  kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak wajib diwaspadai oleh para orangtua. Seperti tragedi yang menimpa seorang bocah berinisial M (berusia 6 tahun) yang menjadi korban sodomi di sekolahnya oleh pegawai cleaning service. Seharusnya, sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk anak-anak. Apalagi sekolah bertaraf internasional.

Berdasarkan psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, menyatakan, pemeriksaan dubur untuk mengenali anak-anak korban sodomi sebenarnya tidak membutuhkan prosedur khusus. Pemeriksaan anus bahkan dapat dilakukan hanya dengan mata telanjang.

“Anak atau siapa pun yang telah menjadi obyek penyemburitan atau sodomi akan memiliki anus berbentuk corong. Mirip dengan tabung kaca yang ada pada lampu semprong. Benar-benar bolong seperti tabung. Lewat pemeriksaan mata telanjang, anus berbentuk corong itu bisa langsung dilihat, jadi tak membutuhkan prosedur khusus,” ungkap Reza melalui Kompas.com,  menanggapi rencana pihak kepolisan melakukan pemeriksaan dubur anak jalanan guna mendukung pemberantasan eksploitasi anak terkait kasus pelecehan seksual.

Akibat perlakuan sodomi, lanjutnya, korban biasanya akan mengalami masalah dengan organ pencernaannya, terutama saat buang hajat. “Benar-benar bolong seperti tabung. Efeknya, mereka akan kesulitan menahan buang air besar karena otot-otot penahan pembuangannya sudah rusak,” ujar Amriel.

Amriel menekankan, walaupun tidak dibutuhkan prosedur khusus, pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan dampak psikologis anak-anak yang menjalaninya. Sebelum pemeriksaan, perlu ada pendekatan dan sosialisasi yang tepat kepada anak dan pihak keluarga.

“Terlepas dari itu, jika dilakukan lewat paksaan, bisa kita bayangkan, akan memunculkan perasaan takut dan sejenisnya. Untuk mengatasinya, sekali lagi, awali dengan sesi informasi terlebih dahulu, baik untuk si anak maupun keluarganya,” ujarnya.

Hukum dan Pengadilan Kasus Sodomi Anak

Pengamat Sosiolog Univeristas Indonesia (UI), Devi Rahmawati menyebutkan yang sedikit mengkawatirkan mayoritas, kata dia juga, tindakan pelecehan yang dialami anak itu bukannya hanya dilakukan remaja, orang dewasa, tetapi juga kakek-kakek. Tindakan itu termasuk fase yang kritis atau melanggar HAM berat.

"Ini bukan hanya pidana, tapi HAM berat. Anak dalam pembinaan harusnya dilindungi, bukan dilecehkan," terangnya melalui INDOPOS (Grup JPNN)

Selain unsur budaya, sambung Devi, sulitnya mengungkap kasus kekerasan seksual pada anak dan membawa pelakunya ke meja hijau diduga karena 'otoritas sosial' para pelaku lebih tinggi daripada korban. Ditambah dengan lemahnya sistem perundangan untuk menjerat pelaku. Kekhawatiran bakal tidak dipercaya, menjadi kendala pengungkapan kasus kekerasan seksual dengan pelaku sedarah sering terjadi. Apalagi kekerasan seksual di lingkungan keluarga atau asrama sekolah cenderung tanpa saksi mata.

"Keterangan korban di bawah umur tidak bisa diakui dalam sistem perundangan kita. Pelaku umumnya memiliki otoritas lebih tinggi ketimbang korban sehingga korban memilih diam. Pelakunya bisa guru, ayah, atau kakak tiri atau orang lain. Untuk mengungkap, para penyidik biasanya mengandalkan hasil riset laboratorium dan kepiawaian para ilmuwan meyakinkan majelis hakim," ujar juga.

Korban Menjadi Pelaku

Sedangkan, Pangamat Psikologi Universitas Indonesia (UI), Fitriani F Syahrul menegaskan penyimpangan sosial yang bisa jadi disebabkan oleh depresi yang kemudian menyebabkan rusaknya pola pikir para pelaku pelecehan terhadap anak-anak. Sedangkan kasus perceraian juga menjadi faktor lain penyebab perkosaan di dalam keluarga.

Belum lagi, anak-anak cenderung menelan mentah-mentah 'doktrin' untuk patuh kepada orang tua. "Bisa saja pelaku frustrasi dengan kehidupannya sendiri, kemudian mencari pelampiasan kepada orang lain. Bahkan bisa anggota keluarga jadi target. Kata-kata 'nurut orang tua' ini jadi soft terror. Nah ini yang tidak disadari secara langsung dan membuat pelecehan seksual terhadap anak-anak terjadi," paparnya.

Fitriani juga menjelaskan, dampak psikologis pada korban anak-anak biasanya tidak berbeda jika ditinjau dari jenis kelamin. Para korban pelecehan seksual itu cenderung tertutup, sulit beradaptasi, bermuatan energi negatif dan sensitif. Selain karakteristik kepribadian, jenis pelecehan seksual yang dialami juga memberikan dampak yang berbeda.

Seperti pelecehan fisik biasanya meninggalkan trauma yang lebih besar dibandingkan kekerasan pelecehan verbal. Selain itu, frekuensi dan durasi terjadinya pelecehan seksual juga berpengaruh terhadap dampak yang ditimbulkan ketika sang anak besar nanti. Semakin sering frekuensinya, atau semakin lama durasinya, maka trauma yang ditimbulkan pada anak juga semakin besar.

Semakin besar trauma yang ditimbulkan, maka semakin panjang waktu pemulihan yang dibutuhkan.

"Side effect-nya anak mengalami gangguan paranoid, trauma berkepanjangan. Sering kali yang mengalami trauma seperti itu ketika dewasa mereka bermasalah terkait hubungan dengan lawan jenis. Mereka pandangannya jadi negatif pada lawan jenis, karena gangguan psikologis yang berat," tuturnya.

Yang lebih ironisnya, sambung Fitriani, dampak lain dari efek kekerasan seksual yang diterima anak adalah mereka kelak bisa tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Apalagi jika mereka tidak mendapat penanganan yang baik dan kurang penanaman nilai religiusitas, maka sangat mungkin kelak dirinya akan mempraktikkan tindakan tersebut alias menjadi pedofil.

Selain itu, tingkat kenakalan anak-anak korban kekerasan seksual akan menjurus kepada pergaulan bebas yang mendasar pada perilaku seks menyimpang. "Perilaku seks anak korban kekerasan ke depan akan menyimpang dan menjurus ke pergaulan bebas. Inilah yang terjadi di negara berkembang, sehingga penyebaran penyakit kelamin hingga HIV terus menjangkit," cetusnya juga.

Dia juga mengaku, sangat sulit menyembuhkan anak korban kekerasan seksual yang trauma berat. "Bisa jadi mereka nanti akan menjadi pedopil atau yang lain. Inilah yang harusnya dihindari," kata Fitriani. Oleh karena itu, lanjut Fitriani, untuk mengembalikan trauma anak yang menjadi korban pelecehan seksual perlu penanganan yang seirus.

Di antaranya, keperdulian keluarga yang mengembalikan rasa percaya diri, terutama pada rasa aman kepada anak untuk bercerita. Utamanya, peran lingkungan agar sang anak korban kekerasan tidak dikucilkan lingkungannya.

"Ya hanya dua itu yang penting. Dukungan dari keluarga dan lingkungan. Jika ini bisa dikendalikan maka efek positif akan dapat ditekan. Selain itu juga perlunya penindakan tegas dari aparat kepolisian untuk menindak keras pelaku pelecehan seksual agar memberikan efek jera dan tindakan kekersan seksual berkurang," paparnya juga. (cok)

Lima Cara Hindari Kekerasan Seksual Pada Anak

1. Tidak Ada Rahasia
Ajarkan si kecil terbuka menyampaikan perasaannya, saat senang, sedih, takut dan gembira. Jika diperlakuan tak senonoh maka dia akan bercerita.

2. Jangan Kenakan Aksesoris Nama
Hindari aksesoris tertulis nama anak. Bisa saja orang tak dikenal menghampiri, lalu menyebutkan namanya seolah-olah kenal lalu menculiknya.

3. Ajarkan Menjaga Organ Tubuh
Katakan pada anak organ intim mereka tidak boleh dipegang sembarang orang. Jika ada yang memegangnya ajarkan berteriak atau lari.

4. Ajarkan Jangan Percaya Orang Asing
Ceritakan kepada si kecil agar berhati-hati bila bertemu dengan orang yang tidak dikenal dan jangan mau menerima apapun dari orang asing.

5. Mencari Perlindungan
Berikan pemahaman siapa saja orang yang dipercaya dan bisa melindunginya. Serta orang-orang yang bisa diminta bantuan, misalnya guru, polisi dan lainnya.

Ruam Pada Wajah dan Cara Mencegah Lupus

Posted: 15 May 2014 12:33 AM PDT

Pertanyaan Konsultasi
Dear Dokter

Trimksh sebelumnya dok sudah mau menjawab,
Kalau gatal tidak dokter cuma di pipi sebelah kanan saya terdapat ruam merah dan saya perhatikan bentuknya mirip dengan kupu2, Sudah terjadi sangat lama dan menurut orang tua dan lainnya adalah hal yang biasa sehingga saya juga berpikir tidak berbahaya. Kurang lebih sejak 10 tahun lalu.

Selain dari itu saya sering merasa terkena penyakit mag. Perihal rasa pegal2 dan mudah capai karena memang tidak ada tenaga saja karena kecapaian. Karena saya belakangan suka membaca di internet sehingga tidak sengaja bertemu artikel ini dan mohon konsultasinya dengan dokter. Terimakasih

Salam

Tia

Dear Dokter

Selamat pagi dokter, apakah penyakit lupus itu apa tidak ada obatnya? Dan bagaimana cara agar tidak terkena lupus?

Salam

Kartika

Jawaban Konsultasi

Seperti Yg telah disebutkan pada artikel di link berikut, bahwa LUPUS juga menyebabkan keluhan secara sistemik, bukan hanya rumah merah di wajah. Rumah merah di wajah Yg tidak gatal bisa Karena pengaruh lainnya, untuk Lebih jelasnya kbisa periksakan ke dokter spesialis kulit untuk kasus ibu Tia.

Untuk ibu Kartika, Lupus merupakan penyakit autoimmune, dimana kita tidak bisa mengontrol agar seseorang tidak terkena penyakit Ini Karena penyakit Ini muncul dengan sendirinya di tubuh. Sayangnya pengobatannya hanya dapat mengontrol
tidak menyembuhkan penyakit ini

Salam

Dr. Vanny Bernadus
Team DokterSehat.com

MERS, Bagaimana Penyebaran dan Resiko Kematian

Posted: 15 May 2014 12:16 AM PDT

Dengan tidak adanya obat antivirus atau vaksin untuk mengobatinya , penyakit MERS telah disebut “killer bug” dengan alasan yang bagus. Di Arab Saudi setidaknya terdapat 414 orang telah terinfeksi dan lebih dari 1/4 nya yaitu 115 orang telah meninggal – bahkan beberapa dari mereka petugas kesehatan yang tertular dari pasien .

Periode antara paparan virus dan gejala berkembang ( batuk , demam , sesak napas ) adalah 5 hingga 14 hari sebagai periode inkubasi – yang adalah waktu yang lama untuk menunggu. Mers adalah jenis baru dari coronavirus , keluarga infeksi virus yang menyebabkan pilek umum serta penyakit SARS yang sempat membuat Asia Tenggara dulu guncang ( sindrom pernafasan akut parah ).

Mers menyebabkan infeksi pernapasan yang menyebabkan pneumonia dan , berpotensi menyebabkan gagal ginjal . Virus ini dapat ditularkan melalui kontak secara dekat antar orang tetapi tidak menyebar dengan mudah. Juga perlu diketahui Mers bukan virus yang kuat dan dapat dibunuh oleh desinfektan rumah tangga sebagimana hasil didiagnosis dengan tes laboratorium. Sehingga pastikan rumah anda selalu anda bersihkan menggunakan karbol pembunuh kuman.

Ada bukti yang berkembang bahwa virus berasal dari unta di Timur Tengah. Sangat disaarankan wisatawan yang ke Timur Tengah untuk menghindari ” kontak yang tak perlu dengan unta ” , termasuk daging unta mentah atau susu unta mentah. Untuk menghindari penyebaran infeksi antar manusia , Anda harus mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan sepenuhnya kering, hindari menyentuh mata, hidung atau mulut terlalu sering untuk mencegah virus menginfeksi anda. Usahakan selalu menutup mulut saat batuk atau bersin .

Departemen Kesehatan di Arab Saudi merekomendasikan bahwa orang-orang di atas 65 atau dengan penyakit kronis , wanita hamil , dan anak-anak di bawah 12 menunda setiap ziarah sementara mengingat jumlah orang yang terinfeksi Mers meningkat .

Tetapi virus ini bukan berarti akhir dari segalanya sebagaimana perkataan W Ian Lipkin dari Columbia University epidemiologi “Saya optimis bahwa kita akan megatasi ini, Saya pikir kita akan dapat menghentikan wabah ini . ” Ia juga mengatakan bahwa banyak kasus penyakit dapat ditelusuri kembali ke unta – sebuah ” waduk besar ” dari infeksi di Semenanjung Arab . Ia memperkirakan bahwa mayoritas unta di Arab Saudi adalah , atau telah , terinfeksi MERS .

Bagaimana MERS menyebar . Para ilmuwan tahu bahwa MERS dapat menyebar dalam sekresi pernapasan , kata Perl , yang merupakan bagian dari tim yang meneliti penyakit ini. Bukti yang muncul bahwa virus ternyata dapat bertahan hidup pada permukaan, yang berarti MERS mungkin menyebar melalui sentuhan. Ia menyatakan bahwa setelah pasien terkena penyakit parah kemungkinan terjadi kematian masih tetap ” di kisaran 60 % . ”

Harapan untuk penyembuhan ?

Saat ini, dokter mengobati MERS dengan mengendalikan gejala , namun para peneliti mulai berusaha memerangi virus secara langsung, kata Perl . Dokter sedang mengusahakan dosis untuk manusia yang diperuntukkan untuk membantu sistem kekebalan tubuh mereka sendiri dalam melawan MERS. Saat ini peneliti juga membuat vaksin untuk unta yang mungkin dapat mencegah penyebaran MERS pada manusia.

“Ini bukan pengobatan manusia tetapi ini adalah bentuk strategi pencegahan semacam seperti rabies , di mana kita melakukan vaksinasi pada hewan dan bukan manusia.”

Rabu, 14 Mei 2014

Sehat Negeriku! - Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Sehat Negeriku! - Pemeriksaan Kesehatan Gratis


Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Posted: 09 May 2014 09:39 PM PDT

Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis di Puskesmas Sukajadi Banyuasin pada Acara Launcing Implementasi pengelolaan dan pemanfaatan dana kapitasi di Faskes tingkat pertama milik pemerintah daerah.Palembang 9-5-14 @Puskompublik-Ly

Launcing Implementasi Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi di Faskes

Posted: 09 May 2014 09:35 PM PDT

Launcing Implementasi pengelolaan dan pemanfaatan dana kapitasi di Faskes tingkat pertama milik pemerintah daerah Oleh menkes RI didampingi Sekjen kemkes RI. Palembang 9-5-14 @Puskompublik-Ly

Launching Program Mobil Klinik .

Posted: 06 May 2014 09:31 PM PDT

MenkoKesra RI dan Menkes RI beserta CEO RZ Direktur Utama setalah meninjau Monik ( Mobil Klinik ) Jakarta 7-5-14 @Puskompublik-Ly

Launcing Program Mobil Klinik .

Posted: 06 May 2014 09:31 PM PDT

Pengguntingan pita yang menandakan telah dilauncing Monik (Mobil Klinik) oleh KemenkoKesra RI didampingi Menkes RI Jakarta 7-5-14 @Puskompublik-Ly

Jumat, 09 Mei 2014

Sehat Negeriku! - IMUNISASI UNTUK MASA DEPAN LEBIH SEHAT

Sehat Negeriku! - IMUNISASI UNTUK MASA DEPAN LEBIH SEHAT


IMUNISASI UNTUK MASA DEPAN LEBIH SEHAT

Posted: 08 May 2014 11:46 PM PDT

Diperkirakan 2-3 juta kematian per tahun secara global berhasil dicegah dari penyakit difteri, campak, pertusis, pneumonia, polio, rotavirus diare, rubella, dan tetanus melalui imunisasi. Namun, masih ada sekitar 22 juta bayi di dunia yang belum mendapat imunisasi lengkap dan sebesar 9,5 juta ada di Asia Tenggara termasuk anak-anak di Indonesia. Situasi ini mendorong langkah global dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dunia melalui pelaksanaan Pekan Imunisasi Dunia.
Pekan Imunisasi Dunia (PID) di Indonesia tahun 2014 sudah dilaksanakan pada tanggal 23 – 30 April 2014. Tema PID tahun ini adalah "Are you up to date ? Know, Check, and Protect, Immunize for a Healthy Future".
 
Dalam rangkaian PID, Kemenkes bersama stakeholder lain menggelar seminar dengan tema "Imunisasi untuk Masa Depan Lebih Sehat", di Jakarta (9/5). Seminar ini dihadiri oleh tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi profesi serta kader kesehatan.
Wakil Menkes Prof. dr. Ali Ghufron Mukti dalam sambutannya saat membuka seminar menyatakan bahwa pembangunan kesehatan dilaksanakan  dengan mengutamakan upaya promotif-preventif – termasuk Program Imunisasi – yang terbukti sangat efektif untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Upaya pencegahan ini diperkuat dengan pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia sejak sekitar 6 dasa-warsa yang lalu dan menghasilkan banyak prestasi yang amat membanggakan, antara lain: 
1.    Dicapainya Eradikasi Cacar tahun 1974.
2.    Dicapainya Universal Child Immunization (UCI) tingkat provinsi di seluruh Indonesia tahun 1990 dan UCI Kabupaten/Kota tahun 1992.
3.    Dicapainya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal di regional Jawa-Bali dan Sumatera  tahun 2010 serta regional Kalimantan, Sulawesi, NTT dan NTB tahun 2011.
4.    Diturunkannya lebih dari 90% angka kesakitan dan kematian akibat penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus, dan Campak jika dibandingkan dengan 20  tahun yang lalu.
5.    Diperluasnya cakupan penyakit yang dicegah Program Imunisasi dengan dimasukkannya antigen Haemophylus influenzae Type B (Hib) pada 2013 untuk mencegah pneumonia dan meningitis akibat Hib. Upaya ini diperkuat dengan pengurangan jumlah suntikan agar anak yang diberi imunisasi dan orang-tuanya merasa lebih nyaman. Selain itu, biaya yang dikeluarkan Pemerintah dan  Masyarakat juga dapat dikurangi. Sejak digunakan vaksin baru yang terdiri dari DPT-HB-Hib (Pentavalen), jumlah suntikan menurun dari 9 suntikan menjadi hanya 3 suntikan saja.
Pada tahun 2013, Imunisasi Pentavalen telah dilaksanakan di 4 provinsi yaitu Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali, dan NTB.  Di samping itu, akan diberikan imunisasi lanjutan pada anak di bawah tiga tahun berupa DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan, dan Campak usia 24 bulan.
 
"Insya Allah,  pada tahun 2014, imunisasi DPT-HB-Hib (Pentavalen) akan dilaksanakan di seluruh Indonesia," kata Wamenkes.
 
Indonesia Bebas Polio
Pada tanggal 27 Maret 2014 Indonesia menerima Sertifikat Bebas Polio dari Regional Commission for Certification of Poliomyelitis Eradication untuk semua negara di Regional Asia Tenggara atau WHO South East Asia Region. Ini menandakan suatu keberhasilan dari perjuangan panjang antara Pemerintah bersama seluruh masyarakat. Perjuangan dimulai dengan pelaksanaan Imunisasi Polio 1980 dan diperkuat dengan berbagai upaya lainnya – seperti AFP Surveillance atau Surveilans Lumpuh Layu.
Upaya ini berhasil menurunkan insiden penyakit polio dari lebih 800 kasus pada tahun 1984 menjadi hanya 1 kasus asli Indonesia atau indigenous case pada tahun 1995. Meskipun pada tahun 2005 – 2006 terjadi importasi polio dari luar negeri yang berakibat terjadinya lebih dari 300 anak Indonesia lumpuh, akan tetapi penyebaran virus polio liar ini dapat diakhiri tahun 2006. Kondisi ini terwujud berkat upaya penanggulangan yang mencakup 5 kali Pekan Imunisasi Nasional.
 
"Meskipun kita telah mencapai Eradikasi Polio, kita masih harus : (1) melanjutkan kegiatan Imunisasi Polio dengan cakupan yang tinggi, merata, dan bermutu, (2) melanjutkan Surveilans Lumpuh Layu yang adekuat dengan indikator 2 per 100.000 anak kurang dari 15 tahun, dan (3) melaksanakan kegiatan pengamanan virus Polio di laboratorium atau Laboratory Containment," kata Wamenkes.
 
Upaya-upaya ini harus dilaksanakan karena ada dua wilayah regional dunia yang belum mencapai tahap eradikasi Polio yaitu Regional Afrika dan Regional Mediterania Timur – East Mediterranian Region, tambahnya.

Kamis, 08 Mei 2014

Sehat Negeriku! - POSKO KLB UNTUK MERS COV

Sehat Negeriku! - POSKO KLB UNTUK MERS COV


POSKO KLB UNTUK MERS COV

Posted: 08 May 2014 02:00 AM PDT

Masyarakat dapat menghubungi Posko KLB PP & PL untuk menanyakan perihal Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus atau MERS-CoV di nomor telepon 021-4257125, 36840901, atau 42877588 dan melalui pesan singkat (SMS gateway) di nomot 0857-6459-997 atau 0857-6459-996.

Posko KLB ini bukan baru dibentuk saat merebaknya kasus MERs CoV, namun telah ada sejak muncul kasus flu burung.
MERS CoV merupakan penyakit sindroma pernapasan yang disebabkan oleh novel corona virus. Gejala yang sering dialami, diantaranya demam, batuk dan sesak napas, bersifat akut, dan biasanya pasien memiliki penyakit ko-morbid (penyerta). Situs Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengabarkan, sejak pertama kali dilaporkan pada September 2012 di Saudi Arabia sampai dengan tanggal 26 April 2014 terdapat 261 kasus konfirmasi dengan 93 kematian akibat virus MERS COV. Hingga saat ini kasus MERS CoV telah ditemukan di 14 negara baik di wilayah Timur Tengah,  Eropa, Afrika, dan Asia dan belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin untuk pencegahan virus korona tersebut.
Untuk menhindari MERS CoV khususnya bagi masyarakat yang akan pergi umroh akan pergi ke jazirah Arab, terapkan 7 Anjuran Kesehatan ini, yaitu :
1.    Selalu lakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) (makan bergizi, istirahat cukup dll). Ini penting karena penyakit terjadi karena ketidaak seimbangan antara host, agent, environment
2.    ‎Rajin dan seringlah Cuci Tangan Pakai Sabuh (CTPS), yang secara ilmiah sudah terbukti dapat mencegah penularan penyakit
3.    Sedapat mungkin gunakan masker bila sedang dalam kerumunan orang
4.    Bila memang punya penyakit kronik (DM, penyakit jantung paru kronik, gangguan ginjal atau penyakit kronik lain), maka cek lah ke dokter anda sebelum bepergian ke jazirah Arab,dan gunakan obat rutinnya secara teratur
5.    Kalau selama di Arab ada keluhan batuk, demam dll (sesak) yang cepat (dalam 1-2 hari) memburuk, maka segera konsultasi pada petugas kesehatan.
6.    Bila dalam kurun waktu 14 ‎hari sampai di tanah air mengalami keluhan2 batuk, demam dll (sesak) yang cepat (dalam 1-2 hari) memburuk, maka segera konsultasi pada petugas kesehatan, dan beritahu petugas kesehatan bahwa anda baru kembali dari Arab
7.    Karena situasi penyakit MERS CoV ini m‎ungkin saja berubah dari hari ke hari, maka kalau memang ada rencana Umroh atau bepergian ke jazirah Arab maka selalu ikuti berita akurat mutakhir tentang perkembangan MERS CoV ini.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id.

POSKO KLB UNTUK MERS CoV

Posted: 08 May 2014 01:55 AM PDT

Masyarakat dapat menghubungi Posko KLB PP & PL untuk menanyakan perihal Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus atau MERS-CoV di nomor telepon 021-4257125, 36840901, atau 42877588 dan melalui pesan singkat (SMS gateway) di nomot 0857-6459-997 atau 0857-6459-996.

Posko KLB ini bukan baru dibentuk saat merebaknya kasus MERs CoV, namun telah ada sejak muncul kasus flu burung.
MERS CoV merupakan penyakit sindroma pernapasan yang disebabkan oleh novel corona virus. Gejala yang sering dialami, diantaranya demam, batuk dan sesak napas, bersifat akut, dan biasanya pasien memiliki penyakit ko-morbid (penyerta). Situs Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengabarkan, sejak pertama kali dilaporkan pada September 2012 di Saudi Arabia sampai dengan tanggal 26 April 2014 terdapat 261 kasus konfirmasi dengan 93 kematian akibat virus MERS COV. Hingga saat ini kasus MERS CoV telah ditemukan di 14 negara baik di wilayah Timur Tengah,  Eropa, Afrika, dan Asia dan belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin untuk pencegahan virus korona tersebut.
Untuk menhindari MERS CoV khususnya bagi masyarakat yang akan pergi umroh akan pergi ke jazirah Arab, terapkan 7 Anjuran Kesehatan ini, yaitu :
1.    Selalu lakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) (makan bergizi, istirahat cukup dll). Ini penting karena penyakit terjadi karena ketidaak seimbangan antara host, agent, environment
2.    ‎Rajin dan seringlah Cuci Tangan Pakai Sabuh (CTPS), yang secara ilmiah sudah terbukti dapat mencegah penularan penyakit
3.    Sedapat mungkin gunakan masker bila sedang dalam kerumunan orang
4.    Bila memang punya penyakit kronik (DM, penyakit jantung paru kronik, gangguan ginjal atau penyakit kronik lain), maka cek lah ke dokter anda sebelum bepergian ke jazirah Arab,dan gunakan obat rutinnya secara teratur
5.    Kalau selama di Arab ada keluhan batuk, demam dll (sesak) yang cepat (dalam 1-2 hari) memburuk, maka segera konsultasi pada petugas kesehatan.
6.    Bila dalam kurun waktu 14 ‎hari sampai di tanah air mengalami keluhan2 batuk, demam dll (sesak) yang cepat (dalam 1-2 hari) memburuk, maka segera konsultasi pada petugas kesehatan, dan beritahu petugas kesehatan bahwa anda baru kembali dari Arab
7.    Karena situasi penyakit MERS CoV ini m‎ungkin saja berubah dari hari ke hari, maka kalau memang ada rencana Umroh atau bepergian ke jazirah Arab maka selalu ikuti berita akurat mutakhir tentang perkembangan MERS CoV ini.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id.

MERs CoV : RS DAN PETUGAS SURVEILANS SIAGA 24 JAM

Posted: 08 May 2014 01:25 AM PDT

Pemerintah telah menyiagakan RS dan petugas surveilans untuk bekerja 24 jam, termasuk petugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan sebagai antisipasi menyebarnya virus Corona. Kasus MERs CoV (Middle East Respiratory Syndrom Corona Virus) ini tingkat keparahannya sedang dan Indonesia sudah memiliki pengalaman dalam kasus SARS dan Flu Burung beberapa waktu lalu. Ini bisa menjadi modal yang baik dalam dalam penanagan MERS.

 

Demikian pernyataan Plt. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Agus Purwadianto saat ditanya wartawan menyusul eskalasi kasus MERS CoV yang semakin meningkat di dunia.

 

Menurut Prof. Agus, hingga kemarin (7/5), dipastikan belum ditemukan satu pun kasus positif MERS CoV di Indonesia.

 

Sementara itu, menyusul peningkatan eskalasi MERs CoV di Arab Saudi, Kemenkes mengimbau kepada calon jamaah umroh untuk menunda pemberangkatan umroh sesuai dengan travel advisor dari Pemerintah Arab Saudi.

“Kami terus menghimbau itu (penundaan) sampai saat ini, sambil kita ditinjau terus perkembangan virus koronanya. Sebab, risiko penularan itu tetap ada dan belum bisa kita  duga,” tambah Prof. Agus.

 

Ditambahkan bahwa hal yang paling utama mendorong penundaan ini ialah hingga saat ini belum ada obat untuk virus korona.

 

Pertimbangan kedua, ialah risiko saat berkumpul dengan banyak orang saat di Arab Saudi. Dimana dikhawatirkan virus tersebut menularkan ke jamaah Indonesia.
Jadi, sudah selayaknya para calon jamaah umroh dan haji khususnya  Lansia untuk menunda pemberangkatan. Paling tidak, sampai tim-tim ahli dari WHO bisa memastikan status kasusnya. Saat ini Pemerintah sedang menunggu hasil dari Tim tersebut. Kemenkes akan mengikuti ketetapan aturan internasional.

"Ini bukan hanya menyangkut jamaah umroh saja," tegas Prof. Agus.

 

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id.

BADAN LITBANGKES SIAP 24 JAM TERIMA SAMPEL MERS-COV

Posted: 08 May 2014 12:35 AM PDT

Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan siap menerima sampel selama 24 jam untuk memeriksa sampel apakah terjangkit penyakit Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus atau MERS-CoV.
“Laboratorium kami siap 24 jam menerima sampel. Silakan dikirimkan,” ujarnya saat jumpa pers di RS Persahabatan (7/5). Menurut Prof. Tjandra, Balitbangkes sedang menunggu pengiriman sampel dari Medan dan Bali untuk memastikan terjangkit virus korona atau tidak.

Angka kematian disebabkan MERS-CoV saat ini mencapai 30 persen namun Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum merekomendasikan pembatasan bepergian.
“Tidak perlu khawatir berlebihan karena tingkat infeksinya kecil jika dibandingkan dengan seluruh jamaah di sana,” ujar Tjandra.
Meski demikian, jamaah umroh dan WNI yang bepergian ke negara-negara Arab diharapkan untuk dapat waspada dan segera menghubungi petugas kesehatan jika mengalami gejala-gejala demam tinggi, flu, batuk dan sesak napas.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id.

Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia

Dokter Sehat - Informasi Kesehatan Indonesia


Apa itu MERS ?

Posted: 08 May 2014 10:54 AM PDT

Middle East Respiratory Syndrome ( MERS ) adalah penyakit virus pernapasan yang pertama kali dilaporkan terjadi di Arab Saudi pada tahun 2012 . Hal ini disebabkan oleh coronavirus yang disebut MERS – COV . Kebanyakan orang yang telah dikonfirmasi memiliki infeksi MERS – COV memilik tanda-tanda penyakit pernapasan akut parah. Gejala yang dialami adalah demam , batuk , dan sesak napas. Sekitar 30 % dari orang-orang terkena MERS ini meninggal.

Sejauh ini, semua kasus MERS dikaitkan dengan enam negara dekat Semenanjung Arab. Virus ini telah menyebar dari orang sakit ke orang lain. Namun, virus ini belum terbukti menyebar dengan cara yang spesifik.

Saat ini Centers for Disease Control US bekerja sama dengan mitra kesehatan untuk lebih memahami risiko virus ini , termasuk sumber , bagaimana penyebarannya , dan bagaimana infeksi bisa dicegah . CDC telah memberikan informasi bagi wisatawan dan bekerja sama dengan departemen kesehatan , rumah sakit , dan mitra lainnya untuk mempersiapkan kemungkinan kasus MERS terjadi di Amerika Serikat.

 

Informasi Umum MERS

Q : Apa MERS ?

A : Middle East Respiratory Syndrome ( MERS ) adalah penyakit virus pernapasan . MERS disebabkan oleh coronavirus yang disebut ” Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus ” ( MERS – COV ) .

Q: Apakah MERS – COV ?

A : MERS – COV adalah coronavirus beta . Ini pertama kali dilaporkan pada tahun 2012 di Arab Saudi . MERS – COV dulu disebut ” coronavirus baru , ” atau ” nCoV ” . Hal ini berbeda dari coronaviruses lain yang telah ditemukan pada orang sebelumnya.

Q : Apakah MERS – COV sama dengan virus SARS ?

J: Tidak, MERS – COV bukan virus yang sama yang menyebabkan sindrom pernafasan akut parah ( SARS ) pada tahun 2003, Tetapi seperti virus SARS , MERS – COV paling mirip dengan virus coronaviruses yang ditemukan dengan pada kelelawar. Virus ini masih dipelajari

Q : Apa saja gejala dari MERS ?

A : Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan MERS – COV berakibat penyakit pernapasan akut parah dengan gejala demam , batuk , dan sesak napas . Sekitar setengah dari mereka meninggal . Beberapa orang dilaporkan memiliki penyakit pernapasan ringan.

Q : Apakah MERS – COV menyebar dari orang ke orang ?

A : MERS – COV telah terbukti menyebar di antara orang-orang yang berada dalam kontak dekat. Transmisi dari pasien yang terinfeksi kepada personil kesehatan juga sedang dipelajari.

Q : Apakah sumber dari MERS – COV ?

A : Kami tidak tahu pasti di mana virus itu berasal. Namun, mungkin berasal dari sumber hewani. Selain manusia , MERS – COV telah ditemukan pada unta di Qatar , Mesir dan Arab Saudi , dan kelelawar di Arab Saudi . Unta di beberapa negara lain juga telah diuji positif untuk antibodi terhadap MERS – COV , menunjukkan mereka sebelumnya terinfeksi MERS – COV atau virus terkait erat. Namun, kita tidak tahu apakah unta adalah sumber virus . Informasi lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi peran kemungkinan bahwa unta , kelelawar , dan hewan lainnya dapat bermain dalam penyebaran MERS – COV .

Q : Apakah ada kasus terjadi di Indonesia yang terinfeksi ?

A : Diduga terjadi, Tiga warga Pekanbaru, Riau ditempatkan di karantina karena mereka menunjukkan gejala MERS setelah dua orang meninggal, kemungkinan besar dari infeksi, terjadi di Denpasar, Bali dan Medan, Sumatera Utara.

“Memang benar, ada warga yang diduga memiliki MERS,” kata Kepala Dinas Kesehatan Riau Zainal Arifin, seperti dikutip oleh negara yang dikelola Kantor Berita Antara, Rabu. “Mereka baru saja kembali dari haji dan memiliki indikator MERS.”

Q : Apakah saya berisiko untuk infeksi MERS – COV ?

J: Anda tidak dianggap berisiko terinfeksi MERS – COV jika Anda belum memiliki kontak dekat , seperti merawat atau hidup dengan seseorang yang sedang dievaluasi untuk infeksi MERS – COV .

Q : Apakah saya masih dapat melakukan perjalanan ke negara-negara di Semenanjung Arab atau negara-negara tetangga di mana kasus MERS telah terjadi ?

A : Ya . bahkan CDC US tidak merekomendasikan siapa pun mengubah rencana perjalanan mereka karena MERS . Saat ini status CDC adalah baru di level Alert ( Level 2 ). Wisatawan yang akan ke daerah tersebut disarankan untuk mengikuti tindakan pencegahan standar , seperti mencuci tangan dan menghindari kontak dengan orang yang sakit .

Q : Bagaimana jika saya baru saja bepergian ke negara-negara di Semenanjung Arab atau negara-negara tetangga dan jatuh sakit ?

J: Jika Anda mengalami demam dan gejala penyakit pernapasan , seperti batuk atau sesak napas , dalam waktu 14 hari setelah bepergian dari negara-negara di Semenanjung Arab atau negara-negara tetangga , kami sarankan anda ke dokter dan ceritakan mengenai perjalan anda.

Q : Bagaimana saya dapat membantu melindungi diri sendiri ?

A : berikut beberapa tips yang dapat dilakukan
- Cuci tangan Anda sering dengan sabun dan air selama 20 detik , dan membantu anak-anak melakukan hal yang sama . Jika sabun dan air tidak tersedia , gunakan pembersih tangan berbasis alkohol .

- Tutup hidung dan mulut dengan tisu saat batuk atau bersin kemudian langsung buang di tempat sampah .

- Hindari menyentuh mata , hidung , dan mulut dengan tangan yang belum dicuci .

- Hindari kontak dekat , seperti mencium , berbagi cangkir , atau berbagi peralatan makan , dengan orang yang sakit .
- Bersihkan dengan anti kuman bagian yang sering disentuh , seperti mainan dan pegangan pintu .

Q : Apakah ada vaksin ?

A: Tidak , tetapi CDC sedang membahas dengan mitra kemungkinan pengembangan vaksin .

Q : Apa pengobatan MERS ?

A : Tidak ada pengobatan khusus direkomendasikan untuk penyakit yang disebabkan oleh MERS – COV . Perawatan medis lebih untuk mendukung dan membantu meringankan gejala.

Q : Apakah ada tes laboratorium ?

A : Tes laboratorium ( polymerase chain reaction atau PCR ) untuk MERS – COV tersedia, tanyakan dengan laboratorium anda.

Sumber:  Centers for Disease Control US dan Channel News Asia

Laporan Keuangan April 2014

Posted: 30 Apr 2014 04:00 AM PDT

Periode laporan keuangan Yayasan DokterSehat untuk Bulan April 2014

Kami ucapkan terimakasih kepada para donatur sehingga DokterSehat dapat tetap beroperasional dan memberikan informasi maupun konsultasi kesehatan secara gratis

Donasi DokterSehat:

Apabila anda ingin mendukung operasional kami silakan memberikan donasi melalui rekening berikut

Via Bank Transfer
Rekening BCA 7015-1476-10 (Oscar Adam Darmawan)

Via Bitcoin
16BePyEkvUK7cWtyAct8oDPtE8c5MzmPuy

Via Dogecoin
DNBu2ft6LFJKYxsCnP2zmenRzBzB5E1CXv

No Description Debit Kredit
1 Pendapatan Iklan 0
2 Pendapatan Donasi 3.280.000
3 Biaya Writer dan Dokter 1.780.000
4 Biaya Operasional 1.500.000
Jumlah 3.280.000 3.280.000